Pantura Jawa Barat Rawan Bencana

Kompas.com - 23/10/2010, 15:42 WIB

Cirebon, Kompas - Hampir seluruh wilayah di pantura Jawa Barat, yang meliputi daerah pesisir Kabupaten Cirebon dan Indramayu, termasuk daerah rawan bencana banjir, tanah longsor, angin ribut, serta air pasang atau rob.

Kepala Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah III Ano Sutrisno, Jumat (22/10), meminta pemerintah kabupaten di pantura membentuk persiapan khusus untuk mengantisipasi bencana.

Data Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Kabupaten Cirebon dan Indramayu tahun 2009 memetakan wilayah Cirebon di bagian pesisir dan pinggir sungai, seperti Sungai Cisanggarung, Ciberes, dan Cimanuk, rawan banjir. Adapun rob berpotensi terjadi di Losari dan Mundu, Kabupaten Cirebon, serta Kandanghaur, Indramayu.

Meski berada di dekat pantai, sejumlah kecamatan di Cirebon terpetakan rawan longsor. Sejumlah kecamatan itu adalah Beber, Greged, Dukupuntang, Palimanan, Sedong, Sumber, Talun, dan Waled. Topografi daerah tersebut berbukit-bukit.

Sementara angin ribut berpotensi terjadi di daerah dataran luas, seperti Kecamatan Pesaleman, Kapetakan, Suranenggala, Susukan, Gegesik, dan Losari; Kabupaten Cirebon.

Kamis sore lalu angin ribut merusak sekitar 30 rumah di Desa Ujung Gebang dan Luwung Kencana, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon. Sebagian atap rumah rontok tersapu angin dan terkena patahan batang pohon. Kepala Desa Luwung Kencana Rofidin mengatakan, setiap kali musim hujan, angin kencang selalu menyapu desanya.

Dalam pekan ini air Sungai Cisanggarung yang mengalir melewati empat kecamatan di Cirebon timur pun kian meninggi. Menurut Deddy Madjmoe, aktivis lingkungan Petakala Grage, batas antara sungai dan rumah terdekat warga di Jatiseeng yang awalnya 10 meter kini menjadi 6 meter. "Ada kekhawatiran debit akan terus naik karena ini belum sepenuhnya masuk musim hujan," kata Deddy.

Menurut dia, masyarakat saat ini hanya berusaha membuat tanggul darurat dari karung pasir untuk menahan air yang bisa meluap sewaktu-waktu.

Menipis

Ano Sutrisno mengatakan, stok cadangan pangan dan obat-obatan untuk korban bencana di Gedung Negara, Oktober ini, menipis. Hampir sepanjang tahun cadangan itu disalurkan ke berbagai daerah bencana di Wilayah III Cirebon. "Karena itu, kami minta pemerintah di daerah segera membuat cadangan makanan dan obat-obatan sendiri agar bisa digunakan saat darurat," katanya.

Selain cadangan pangan dan obat-obatan, berbagai peralatan berat, seperti backhoe, perlu disiapkan untuk mengeruk longsor atau mengangkat sedimen sungai. (NIT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau