Matnur dan kawan-kawan melahap lintasan sepanjang 12 kilometer dengan catatan waktu 15 menit 53,69 detik atau dengan kecepatan rata-rata 45,28 kilometer per jam. Tim asal Belanda, CCN-Colossi, menjadi tim tercepat kedua, tertinggal 8 detik, sedangkan tim Eddy Hollands Bicycle Services asal Australia 11 detik lebih lambat dari tim Polygon Sweet Nice (PSN).
Diperkuat satu pebalap asing asal Rusia, Sergey Kudentsov, kecepatan tim Polygon tak tertandingi oleh 18 tim lain yang mengikuti balapan ini. Pebalap spesialis sprint, Sergey, berhak mengenakan kaus kuning setelah memimpin rekan-rekannya menyentuh garis finis di Jalan Jenderal Sudirman, sebagai pemimpin balapan sementara.
Tim asal Iran, Vali ASR Kerman, finis di tempat keempat dengan catatan waktu 16 menit 14,58 detik diikuti Tim Nasional Malaysia dengan 16 menit 20,36 detik. Dua tim lokal, United Bike Kencana (UBK) Malang dan tim DI Yogyakarta, menyusul di belakangnya dengan catatan waktu 16 menit 21,73 dan 16 menit 24,18 detik.
Di jajaran pebalap lokal, Matnur, yang tahun lalu memperkuat tim DI Yogyakarta, berhak mengenakan kaus merah putih sebagai pebalap tercepat kelompok Indonesia. ”Penampilan para pebalap di tahapan awal ini bagus. Hanya kami harus mempertahankannya untuk menghadapi etape- etape berikutnya,” kata Wawan Setyabudi, manajer tim PSN usai menyalami para pebalapnya yang sementara unggul di klasemen.
Salah satu pebalap PSN, Hari Fitrianto, tidak mengira timnya mampu menjadi yang tercepat pada tahapan pertama. Menurut Hari, meski lelah, keikutsertaan para pebalap tim PSN pada balapan di China justru memberi efek positif kepada para pebalap.
”Pengalaman menghadapi tim- tim profesional papan atas dunia, meski kami terpaut sangat jauh dari mereka, sangat membantu dalam menghadapi balapan ini,” ujar Hari, yang musim lalu menjadi pebalap terbaik Indonesia ini. Hari juga ingin mempertahankan gelar pebalap terbaik itu. ”Saya berusaha yang terbaik dengan tidak meremehkan tim lain.”
Wawan menambahkan, mundurnya dua tim Iran, salah satunya juara bertahan Tour d’Indonesia, Tabriz Petrochemical Iran, membuat persaingan pada balapan kali ini lebih terbuka. Meski demikian, justru persaingan tetap berat karena tim dan pebalap lain juga berpeluang. Ia menyebut, keberhasilan memenangi tahapan pertama juga tak lepas karena para pebalapnya kini lebih siap.
”Kami bisa lebih bersaing karena tim sekarang lebih siap, tetapi tim-tim lain juga tak kalah dalam menyiapkan pebalapnya,” ujar Wawan.
Usman Ali, pebalap UBK, mengatakan, berada di urutan enam klasemen sementara justru memacunya melakukan yang terbaik. ”Hari ini saya dan teman- teman sudah berusaha maksimal,” ujarnya.
Sementara itu, Fatahillah Abdulllah, pebalap tim DI Yogyakarta, menuturkan, angin yang bertiup kencang pada etape pertama cukup menyulitkannya. ”Angin membuat saya berat mengayuh,” ujar Fatahillah, yang timnya start di urutan ke-12.
Seusai menyelesaikan team time trial di Jakarta, pebalap langsung berpindah ke Bandung untuk memulai etape kedua yang bakal berlangsung hari ini. Etape kedua ini merupakan etape terpanjang Tour d’Indonesia dengan menempuh jarak 213,2 kilometer dari Bandung hingga Cirebon.
Menghadapi etape kedua dengan keunggulan yang sangat tipis, tim PSN diperkirakan bakal mendapat tekanan berat dari tim lain. Etape kedua ini menantang karena sejumlah jalurnya diwarnai beberapa tanjakan, berkelok- kelok dengan turunan tajam.
Menurut Wawan, pesaing ketat bukan hanya dari para pebalap atau tim asing, tetapi juga dari pebalap lokal. ”Kalau pebalap asing biasanya mereka lebih jago sprint, tetapi menghadapi tanjakan, pebalap Indonesia justru yang jago. Kami justru mewaspadai tim Jawa Barat, karena mereka adalah raja tanjakan, dan juga tim Customs Cycling Club Indonesia,” ujarnya.