Aktivitas merapi

Titik Api Diam Tanda Erupsi Belum Terlihat

Kompas.com - 25/10/2010, 03:58 WIB

Yogyakarta, Kompas - Meski aktivitas Gunung Merapi terus meningkat sejak statusnya naik menjadi Siaga pada 21 Oktober, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Badan Geologi menyatakan belum melihat titik api diam di puncak gunung yang menjadi tanda erupsi segera terjadi.

”Beberapa informasi yang menyatakan adanya titik api diam sudah kami terima. Namun, petugas kami di lima pos pemantauan Merapi melaporkan belum melihat titik api,” kata Kepala BPPTK Yogyakarta Subandriyo di kantornya di Yogyakarta, Minggu (24/10).

Titik api diam berwarna merah merupakan magma yang sudah sampai di puncak Merapi dan menjadi pertanda erupsi semakin dekat. Biasanya, magma itu akan membeku dan membentuk kubah atau sumbat lava sebelum berujung pada erupsi.

Aktivitas Merapi pada Minggu, dari pukul 00.00 hingga 12.00, tercatat gempa multifase sebanyak 294 kali, guguran material 90 kali, dan gempa vulkanik 39 kali. Sepanjang Sabtu, gempa multifase terjadi 525 kali, guguran material 183 kali, dan gempa vulkanik 80 kali. Sebagai pembanding, saat status aktif normal, gempa vulkanik Merapi terjadi sekali sehari dan gempa multifase maksimal lima kali.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTK Yogyakarta Sri Sumarti menyatakan, dari catatan rekaman gempa, Minggu, guguran secara kualitatif cukup besar.

Pengembangan kubah lava juga terus membesar. Ismail, petugas Pos Pengamatan Babadan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu, mengatakan bahwa deformasi yang sebelumnya hanya 9 sentimeter per hari, pada 21 Oktober menjadi 16,4 sentimeter per hari, dan pada 22 Oktober menjadi 19,6 sentimeter per hari. Pengembangan kubah lava hanya terpantau di Pos Pengamatan Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta.

BPPTK telah mengeluarkan larangan bagi aktivitas manusia di 11 sungai yang berhulu di Merapi karena rawan terjangan material. Warga yang berada di radius kawasan rawan bencana III Merapi (radius 8 kilometer) diminta siaga sewaktu-waktu erupsi terjadi.

Warga sekitar Merapi kini lebih sering mendengar suara gemuruh dan getaran serupa gempa. Ganda, salah seorang warga Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Magelang, mengatakan, jika sebelumnya suara gemuruh belum tentu terdengar satu kali dalam satu minggu, saat ini suara gemuruh terdengar setiap hari.

Walau begitu, Ganda mengatakan, hal itu tidak membuat warga cemas ataupun takut. ”Sebagai warga yang tinggal di lereng Gunung Merapi, kami sudah terbiasa dengan tanda-tanda alam seperti ini,” katanya.

Hingga Minggu, warga sekitar masih beraktivitas dan bertani seperti biasa. Kegiatan penambangan pasir dan batu masih terus berlangsung. Truk pasir ramai di sepanjang jalan di Kecamatan Dukun dan Srumbung.

Namun, setelah larangan menambang pasir di Kali Gendol, Cangkringan, Sleman (radius 7 km), Sabtu lalu, tak ada truk yang melintas. Mereka memilih membeli di depo pasir di Dusun Kopeng, Cangkringan, dengan harga lebih mahal. (EGI/PRA/ENG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau