Grup Ciputra Lebarkan Sayap, Bangun Perumahan di 4 Kota

Kompas.com - 25/10/2010, 10:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ciputra Grup akan melebarkan sayapnya untuk menggarap proyek-proyek perumahan baru di lima kota besar di Indonesia. Di antaranya, dua di Semarang, satu di Denpasar Bali, Kendari, dan Yogyakarta.

"Akhir tahun ini, kami memang sedang menggarap lima proyek baru kami yang berada di Bali, Kendari, Semarang dan Yogyakarta,” terang Direktur PT Ciputra Surya Tbk, Sutoto Yakobus.

Untuk menggarap lima proyek tersebut, Ciputra harus merogoh koceknya sebesar Rp 1,5 triliun. Investasi paling besar adalah untuk perumahan di Semarang; yaitu mencapai Rp 700 miliar. Untuk luas areal 18 hektare (ha), membutuhkan Rp 300 miliar, dan 30 ha butuh Rp 400 miliar ha.

Untuk proyek perumahan yang berlokasi di Kendari, nilainya mencapai Rp 250 miliar. Sedangkan proyek perumahan di Bali, nilainya mencapai Rp 350 hektare. Untuk Kendari dan Bali, masing-masing luas areal lahannya mencapai 15 ha dan 18 ha. Sementara itu, untuk proyek di Jogja dengan luas areal 10 ha diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp 200 miliar.

Untuk menggarap proyek ini, Ciputra menggandeng beberapa perusahaan lokal sebagai mitra kerjanya. "Karena pembebasan lahan saat ini sudah sangat sulit, maka dalam mengembangkan proyek baru, kami akan menggandeng mitra lokal yang sudah memiliki bank tanah,” terang Sutoto.

Sayangnya, Direktur PT Ciputra Surya, Nanik Santoso enggan menyebutkan siapa mitra lokal yang mereka incar. "Nanti sistem bagi hasilnya fifty-fifty," kata Nanik.

Dengan mengembangkan lima proyek properti tersebut, Sutoto berharap omset Ciputra akan terkerek naik sebesar Rp 250 miliar per tahun dari omset saat ini sebesar Rp 500 miliar hingga Rp 600 miliar per tahun.

Omset ini didapatkan dari proyek Citraland Surabaya sebesar Rp 225 miliar, The Taman Dayu Rp 50 miliar, Ciputra World Rp 55 miliar, Bukit Palma Rp 40 miliar, Citra Harmoni Rp 50 miliar, Citra Garden Rp 50 miliar, proyek Ambon sebesar Rp60 miliar dan terakhir proyek Manado sebesar Rp 70 miliar.

“Kami berharap, mulai dua tahun yang akan datang, sumbangan 5 proyek baru ini akan mencapai Rp 250 miliar miliar per tahun atau sebesar Rp 50 miliar per proyek,” terangnya.

Kembangkan di luar Jawa

Wakil Direktur Jones Lang LaSalle Indonesia Djodi Trisusanto menjelaskan, masih banyak pasar properti yang bisa digarap di luar Jakarta khususnya luar Pulau Jawa. Kecuali, jika pengembang tersebut memiliki bank tanah yang mencukupi. Di Jawa, kini tak mudah untuk mendapatkan lahan; bandingkan dengan di luar Pulau Jawa, masih banyak lahan yang dapat digarap untuk sektor properti.

Wilayah yang menjadi primadona untuk pasar perumahan adalah, Bali dan Batam. Bali sebagai tempat wisata, pasti akan banyak memicu permintaan untuk hunian tempat tinggal, baik hotel atau perumahan; sedangkan Batam yang berdekatan dengan Singapura membuat properti di Batam juga ikut tumbuh.

"Bali dan Batam masih akan menjadi sasaran lokasi untuk properti. Sedangkan wilayah lain seperti Lombok, masih berpotensi untuk tumbuh namun tidak sekarang, mungkin dalam 2 hingga 3 tahun ke depan. (Fitri Nur Arifenie/KONTAN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau