Penghargaan emil salim

Bersiap Sekarang untuk 50 Tahun ke Depan

Kompas.com - 25/10/2010, 10:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Penghargaan Emil Salim: Estafet bagi Generasi Muda untuk Peduli Planet Bumi digelar, Minggu (24/10/2010), diberikan kepada anak-anak muda yang berdedikasi tinggi melalui upayanya menciptakan inovasi-inovasi bagi pelestarian lingkungan hidup, terutama dalam menghadapi bermacam gejala perubahan iklim.

Pemenang pertama untuk kategori usia 15-18 tahun diraih oleh Sumarlina asal SMAN 1 Wringinanom Gresik dengan proyeknya berjudul Dokter Sungai: Capung Indikator Kesehatan Sungai. Pada kategori usia 19-24 tahun, pemenang penghargaan ini diraih oleh Claudia Windasari Wijaya asal Universitas Surabaya dengan judul Pemanfaatan Limbah Udang Sebagai Obat Alternatif Hiperlipidemia dalam bentuk tablet. Sementara British Council, yang juga mendukung penghargaan ini, juga memberikan penghargaan kepada Nina Nuraniyah dengan proyeknya Masa Depan Bumi di Tangan Anak Muda Masa Kini.

Penghargaan Emil Salim 2010 adalah tahun pertama penghargaan ini dilaksanakan. Acara ini digagas oleh Yayasan Pembangunan Berkelanjutan (YPB), Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia, Dewan Nasional Perubahan Iklim serta Earth Charter dan didukung oleh British Council untuk memberikan penghargaan kepada generasi muda yang mengikuti program Climate-Smart Leaders.

Program tersebut ditujukan bagi usia 15-24 tahun yang memiliki aktivitas tinggi di daerah perkotaan. Penghargaan diberikan bagi enam proposal proyek terbaik terkait pemanasan global dan perubahan iklim. Sebanyak 24 proposal terbaik telah terseleksi dari 226 proposal yang masuk ke panitia.

"Jangan dilihat nama penghargaannya, tapi lihat maksud penghargaan itu. Saya merasa usia sudah lanjut, 80 tahun, sedangkan pekerjaan belum selesai. Ibaratnya, mau lari kencang tapi sudah tidak bisa, untuk itu saya terima penghargaan ini atas nama saya," ujar Emil Salim, mantan Menteri Pendayagunaan dan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi, dalam sambutannya.

Emil menambahkan, target penghargaan ini membidik anak-anak mudia usia 18-25, Merekalah, menurut dia, yang akan menghadapi dunia ini 50 tahun ke depan.

"Menghadapi dunia yang akan datang ini, Indonesia tidak akan bertambah besar, yang bertambah besar adalah jumlah penduduknya. Bagaimana menampung 500 juta penduduk di tahun 2060, untuk itu kita megharapkan kalian yang muda-muda ini," lanjut Emil.

Kemudian Emil memaparkan, ada empat pesan yang harus diberikan kepada anak muda. Pertama, kembangkan semaksimal mungkin bakat, akal, pikiran, jasmani, dan rohani yang diberikan Tuhan. Kedua, anak-anak muda harus banyak belajar dari alam semesta sebagai guru mereka. Ketiga, tidak ada yang kekal di dunia ini kecuali Tuhan dan perubahan itu sendiri.

"Keempat, tumbuhkanlah dalam diri kalian perilaku belajar. Belajarlah terus menerus, tidak hanya di sekolah tetapi bisa belajar di pergaulan, organisasi, dan percakapan di masyarakat," ujar Emil.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau