Desa Wisata Jangan Jadi Kota

Kompas.com - 25/10/2010, 11:30 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - Pembukaan suatu desa menjadi desa wisata semestinya tidak membuat desa tersebut kehilangan ciri khas sebagai desa. Selama ini, pengelola di sejumlah desa wisata dinilai belum memahami konsep tersebut.

Menurut Djoko Purwanggono dari Satu Jalan Convex, penyelenggara seminar pengemasan produk wisata berbasis potensi pedesaan, saat ini antusiasme membuat desa wisata sangat tinggi. Namun, hal itu belum diimbangi pemahaman konsep desa wisata.

"Misalnya, malah ada pengelola desa wisata yang membangun fasilitas baru yang sebenarnya tidak diperlukan," katanya, Sabtu (23/10).

Pembangunan fasilitas baru di desa wisata semestinya memerhatikan konteks lingkungan desa. Namun, tak sedikit pengelola desa wisata yang justru membangun restoran, vila, bahkan hotel. Jalan di pedesaan juga dibangun seperti di kota sehingga desa kehilangan suasana desa yang alami. "Desa wisata itu menjual desa, tetapi jangan sampai kehilangan desanya," tuturnya.

Menurut dia, pariwisata pedesaan pada dasarnya menjual daya tarik kehidupan desa. Dengan begitu, masyarakat desa semestinya dilibatkan mengelola wisata.

Mereka bisa menjadi pemandu wisata di desa tersebut. Karena itu, pengelola desa wisata harus bisa mengajak masyarakat terlibat. Yusuf Sudadi dari Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia mengatakan, pengelolaan desa wisata memerlukan kerja sama semua pihak. Kerja sama akan menciptakan kenyamanan dan keamanan desa sehingga wisatawan yang berkunjung merasa nyaman.

Untuk meluruskan pemahaman tentang pengelolaan desa wisata, Satu Jalan Convek bekerja sama dengan Sekretaris Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menggelar seminar dan pelatihan pengemasan wisata berbasis pedesaan. Acara itu dihadiri para pengelola desa wisata dari lima kabupaten/kota dan pelaku wisata lain di DIY.

Sumarjuni, pengelola Desa Wisata Blibiran, Playen, Gunung Kidul, menuturkan, desanya memiliki sejumlah potensi wisata yang layak dikembangkan. Di antaranya, air terjun dan goa alam.

Akan tetapi, hingga saat ini pihaknya masih kesulitan mengemas potensi itu sebagai tujuan wisata yang bisa menarik minat wisatawan. Untuk menarik minat pengunjung, dua obyek wisata itu membutuhkan fasilitas penunjang berupa jalan maupun bangunan. "Kami perlu bimbingan dan saran agar bisa membangun sarana dan fasilitas penunjang tanpa menghilangkan keaslian obyek wisata tersebut," katanya. (ARA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau