Jadilah Diri Sendiri

Kompas.com - 25/10/2010, 22:06 WIB

KOMPAS.com - Perubahan gaya di dunia mode tidak selalu harus diikuti setiap orang. Secepat apa pun perubahan yang terjadi, setiap perempuan sepantasnya berpenampilan sesuai karakter masing-masing. ”Jadilah dirimu sendiri,” ujar perancang mode Sebastian Gunawan. Sebastian Gunawan mengajak perempuan Indonesia untuk tampil sesuai kepribadian mereka sendiri. Maka, perancang yang dipanggil Seba ini menyediakan banyak pilihan gaya bagi pencinta mode pada tahun 2011 nanti. 

”Sekarang ini banyak perempuan yang hanya ikut-ikutan dalam berpenampilan, padahal mereka bisa menjadi diri sendiri. Pada zaman yang menyediakan banyak pilihan ini, setiap orang seharusnya bisa tampil beda,” kata Sebastian.

Untuk itu, melalui koleksi berlabel Sebastian Gunawan koleksi 2011, Seba tidak mendikte perempuan tentang apa yang harus dipakai, tetapi apa yang layak mereka pakai. Filosofi ini diperlihatkan dalam pergelaran bertema Femme Fatale di Jakarta, Senin (18/10).

Seba mengambil inspirasi dari perempuan berkarakter kuat yang populer pada era 1940 hingga 1960-an, seperti Marilyn Monroe, Grace Kelly, dan Greta Garbo. Sementara zaman sekarang, ada Victoria Beckham yang menginspirasi Seba. Perempuan-perempuan itu dinilai punya karisma kuat, tetapi tidak berlebihan.

”Baju yang dipakai Victoria banyak juga dipakai orang lain. Tetapi, dia bisa tampil beda karena memiliki karakter yang kuat,” kata Seba.

Dalam pergelaran yang memperlihatkan 92 rancangan tersebut, Seba yang pada awal kariernya dikenal melalui rancangan more is beautiful, kali ini dan beberapa tahun terakhir menahan diri dalam penggunaan kristal dan payet. Kristal dan payet hanya muncul sebagai aksen di pundak, punggung, atau menghias pinggang dan pinggul.

Menurut Seba, pelanggannya menghendaki tidak terlalu banyak kristal dan payet supaya bisa dipakai ke beberapa acara. ”Kalau memakai banyak kristal, menurut mereka gaun itu akan menonjol dan diingat orang. Sulit dipakai ke tempat lain. Perempuan sudah lebih tahu apa yang mereka inginkan. Sayangnya, banyak yang masih ikut-ikutan,” kata ayah satu putri ini.

Sebagai benang merah, busana-busananya tetap feminin dan elegan seperti gaya Seba selama ini meski ada sentuhan lebih maskulin yang kini sedang menjadi kecenderungan di berbagai pekan mode kota.

Pundak berbantalan bahu, bentuk yang lebih berstruktur kotak, kerah tegak dan kaku, beberapa menyatu langsung menjadi aksen hingga ke pinggul. Untuk membuat menjadi lebih elegan dan feminin, Seba memadukannya dengan draperi, rok mengembang, atau bahan lembut dan feminin, seperti sifon, renda, dan tulle.

Seba sengaja tak ingin mengarahkan pada suatu gaya tertentu untuk menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kepribadian unik dan karena itu dapat memilih yang paling cocok untuknya sepanjang bisa membawakan busana itu sesuai kepribadiannya. ”Pokoknya jadilah dirimu sendiri,” ujar Seba.

Susan

Dari perayaan 30 tahun Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo, tema Iconic Silhouette menuntut siswa lulusan 2010 untuk kreatif memperkaya siluet busana yang sudah dikenal di dunia mode, seperti siluet A, H, O, X, dan I.

”Acara ini menuntut kreativitas siswa. Jangan dulu berbicara mengenai harga dan model baju yang bisa dipakai karena mereka menempuh pendidikan di sini hanya setahun. Mereka akan belajar mengenai hal itu ketika terjun ke dunia yang sebenarnya,” ujar Susan.

Tuntunan membuat busana bersiluet ini diterjemahkan siswa dalam beragam gaya, seperti gaya feminin dalam berbagai model mini dress, gaya maskulin yang diperlihatkan melalui padu padan celana pendek dan jas, sampai yang bergaya ekstrem, seperti rok balon yang dibuat seperti sarang burung atau jubah besar lengkap dengan topeng yang menutupi wajah.

Susan mensyaratkan para siswa menggunakan bahan felt (kain yang terbuat dari serat katun, rayon, wol, atau bulu) meski banyak juga yang mengombinasikan dengan bahan lain.

LPTB Susan Budihardjo berdiri pada 1980, setahun setelah Susan kembali ke Indonesia seusai menyelesaikan pendidikan mode di London dan Kanada. Lembaga yang sudah memiliki cabang di Semarang dan Surabaya ini sudah melahirkan desainer-desainer terkemuka, seperti Sebastian Gunawan, Denny Wirawan, Tri Handoko, Widhi Budimulia, dan Didi Budiardjo.

”Dalam perkembangannya, saya sangat senang karena semakin banyak remaja yang tertarik dengan dunia mode karena bersekolah di sini artinya harus memiliki minat terhadap mode. Tahun ini sekitar 80 persen siswa adalah lulusan SMA yang berusia 18 tahun. Artinya, para orangtua sudah menilai mode bisa menjanjikan masa depan yang baik,” kata Susan.

(Yulia Sapthiani dan Ninuk Mardiana Pambudy)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau