Saran untuk kota jakarta

Patrialis Pun "Mentok"

Kompas.com - 26/10/2010, 14:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Semua warga Jakarta sepertinya mengelus dada atas kondisi Jakarta setelah diguyur hujan deras. Macet, banjir, ataupun genangan, menjadi hambatan yang berbuah umpatan dan keluhan.

Tak hanya warga biasa, menteri sekalipun merasakan hal yang sama. Kawalan petugas pengawal (voorijder) tak mampu membantu sang menteri menembus kemacetan. Seperti pengalaman Menteri Hukum dan HAM Patrialias Akbar, saat terjebak macet pada Senin (25/10/2010) kemarin.

Diceritakan Patrialis, ia meninggalkan Kantor DPR sekitar pukul 17.00. Rencananya, Patrialis akan menuju rumahnya di kawasan Widya Chandra, Jakarta Selatan. "Kena macet juga. Dari DPR pukul 5, saya maunya pulang ke rumah, mandi, karena jam setengah 8 malam ada acara lagi di depan TVRI (kawasan Senayan)," ujar Patrialis, seusai mengikuti Sidang Paripurna di Gedung DPR, Jakarta, Selasa.

Untuk menempuh jarak yang tak terlalu jauh, Patrialis harus menempuh waktu selama dua jam. "Padahal sudah pakai voorijder," katanya.

Ada saran untuk pemegang kendali Jakarta, Pak? Saat ditanya soal ini, Patrialis mengatakan, "Sudah susah, mau dikasih saran apa pun," ujar Patrialis.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau