Denpasar, Kompas -
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Provinsi Bali Gde Darmaja, Selasa (26/10), mengakui maraknya buah impor. Ia memperkirakan tingginya permintaan buah impor berasal dari kalangan perhotelan. Pihaknya pernah menyurvei beberapa hotel berbintang di Nusa Dua, yang memang memprioritaskan buah impor.
”Kami mengakui penampilan buah impor lebih menarik. Namun, secara rasa, buah lokal juga tak kalah enaknya,” kata Darmaja.
Darmaja berjanji akan terus mengimbau pelaku pariwisata agar mendukung gerakan mengonsumsi buah lokal. Namun, imbauan tersebut kerap diabaikan pelaku pariwisata dengan alasan produk dalam negeri tidak memenuhi standar internasional dan selera tamu asing.
Dinas Perindag Bali kini tengah menjajaki pembuatan nota kesepahaman (MOU) dengan kalangan perhotelan melalui Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, serta mengeluarkan peraturan daerah menyangkut hal ini.
Masyarakat Bali juga diakui pada umumnya belum memiliki kesadaran untuk menggunakan produk lokal guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia mencontohkan, masyarakat Bali masih cenderung memilih buah impor untuk perlengkapan upacara.
Sekretaris PHRI Bali Perry Markus mengakui, kalangan perhotelan banyak menggunakan produk impor.
”Kendala utama menggunakan produk pertanian lokal selama ini adalah kontinuitas produksi dan jaminan kualitas. Kalau pemerintah mau menjamin, tentu kami dengan senang hati menerima MOU itu,” tuturnya.