4 Mitos Kesehatan yang Salah Kaprah

Kompas.com - 28/10/2010, 12:13 WIB

KOMPAS.com — Anda pernah mendengar bahwa Anda tidak boleh menelan permen karet karena permen itu bisa menempel di perut dan menimbulkan masalah? Atau Anda tidak boleh langsung mandi setelah makan?

Ada beberapa ajaran orangtua yang disampaikan kepada kita tanpa penjelasan yang ilmiah. Kita pun menerima saja masukan tersebut tanpa mengetahui alasan di baliknya. Kini, sebaiknya Anda mulai menguraikan apa yang menyebabkan munculnya mitos-mitos semacam itu.

Tidur dalam keadaan rambut basah sehabis keramas bisa bikin flu? Hanya karena Anda kedinginan dan basah, tidak berarti Anda bisa jadi flu; begitu juga bila Anda keluar rumah dengan rambut yang masih basah. Flu disebabkan oleh virus sehingga Anda hanya akan terkena flu bila terpapar virus.

Jim Sears, dokter anak di San Clemente, California, pernah mengadakan penelitian di Common Cold Research Unit di Salisbury, Inggris. Saat itu, peneliti menyuntikkan virus flu ke hidung sekelompok relawan. Separuh dari kelompok tersebut diminta masuk ke ruangan yang hangat, sementara sisanya diminta mandi lalu berdiri dalam keadaan basah kuyup di lorong selama setengah jam. Setelah itu, mereka berpakaian, lalu mengenakan kaus kaki basah selama beberapa jam berikutnya. Hasilnya, kelompok yang basah ini ternyata tidak mengalami flu. "Kedinginan ternyata tidak memengaruhi sistem kekebalan Anda," kata Sears.

Jika Anda pura-pura jereng, mata Anda tidak bisa kembali normal "Menjerengkan mata secara sukarela tidak berbahaya," ucap W Walker Motley, asistan profesor ophthalmology di University of Cincinnati College of Medicine. Namun, jika Anda melihat anak atau teman Anda melakukan hal ini berulang kali (ketika ia tidak sedang membanyol atau menirukan karakter kartun), mungkin ia memang punya masalah penglihatan.

Permen karet bisa bertahan di perut selama tujuh tahun Waktu kecil, kita sering ditakut-takuti bahwa permen karet tidak boleh ditelan karena bisa menempel di dinding perut. Kenyataannya, walaupun tertelan, permen karet tidak akan ngendon di sana selamanya. "Seperti benda non-makanan lain yang sering ditelan anak-anak, cairan bisa membawa permen karet melalui saluran usus, dan dalam beberapa hari akan dibuang," ujar David Pollack, dokter senior di Children’s Hospital of Philadelphia Care Network.

Selain itu, meski permen karet tidak mudah hancur di dalam sistem pencernaan, hal itu juga tidak akan menyebabkan sakit perut.

Anda tak boleh berenang satu jam setelah makan "Setelah makan, makin banyak aliran darah menuju sistem pencernaan, dan menjauh dari otot," kata Scott W Cohen, dokter anak di Beverly Hills, dan penulis buku Eat, Sleep, Poop: A Common Sense Guide to Your Baby’s First Year. Orang mungkin berpikir, jika langsung berenang setelah makan, maka kekurangan darah itu akan menyebabkan Anda kram dan tenggelam. Namun, hal ini tak akan terjadi.

"Anda mungkin akan kekurangan energi untuk berenang dengan penuh semangat. Namun, hal itu seharusnya tidak menghalangi kemampuan Anda untuk menguasai air atau bermain di air," tambah Sears.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau