Ekonomi daerah

Politik Daerah Lebih Pengaruhi Ekonomi

Kompas.com - 28/10/2010, 15:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Perkembangan ekonomi di daerah jauh lebih dipengaruhi oleh politik perekonomian yang digunakan oleh pemimpin daerahnya, ketimbang oleh variabel-variabel yang terkait dengan tata kelola pemerintahan yang baik, mulai dari masalah aturan daerah, kemudahan memperoleh lahan, hingga perpajakan. Kepentingan pejabat daerah dan partai politik diduga menjadi penyebab utama arah pertumbuhan ekonomi di daerah.

Demikian hasil penelitian yang dilakukan peneliti Institute of Development Study (IDS) dari Universitas Sussex, Inggris, Neil McCulloch dan bekerjasama dengan Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), serta AusAID. Hasil penelitian berjudul Tata Kelola Ekonomi Daerah, Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah ini dipaparkan di Jakarta, Kamis (28/10/2010).

"Ini adalah penelitian tentang perekonomian di Indonesia yang paling lengkap pertama setelah Aceh masuk secara penuh," kata Neil.

Menurut Neil, hubungan antara pengusaha dengan pemimpin daerah, hubungan antara kontraktor untuk mendapatkan akses ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sangat mewarnai terbentuknya pertumbuhan ekonomi di daerah. "Kami sangat tahu hubungan-hubungan ini yang mempengaruhi terbentuknya perekonomian di daerah," katanya.

Setidaknya ada empat aspek yang dapat mengukur tata kelola pemerintahan di daerah, yakni stabilitas, pencarian rente ekonomi, kompetensi, dan keterbukaan dan akuntabilitas. Stabilitas dapat dilihat dari konflik pertanahan, daerah yang jarang memiliki konflik pertanahan biasanya dipimpin oleh kepala daerah yang kuat dan aturan yang dibuat tidak menciptakan ketidakpastian.

Pencarian rente ekonomi akan semakin ditekan jika pemimpin daerah tidak korup, pemerintah daerah tidak menyebabkan meningkatnya biaya bisnis, dan tidak ada pungutan ilegal, tidak ada biaya distribusi, dan tidak ada pembayaran ke polisi. Untuk masalah kompetensi, harus ada program pengembangan usaha dan waktu yang diperlukan untuk membuat perizinan tidak lama.

Neil menyebutkan, kota yang memiliki banyak konflik pertahanan biasanya memiliki populasi yang padat karena akan mendorong terjadinya persaingan sumber daya lahan. Daerah di luar Jawa justru tercatat memiliki konflik pertanahan. begitu juga daerah yang memiliki peningkatan anggaran yang besar cenderung memiliki efek pencairan rente ekonomi yang lebih besar di daerah.

Penelitian ini dilakukan di 266 kabupaten dan kota pada 16 provinsi dengan mengambil sampel 50 perusahaan di setiap kabupaten dan kota. Dimana, sampel pengusahanya diambil dari tiga level yang berlainan, yakni pengusaha kecil, menengah, dan pengusaha besar. Jawaban dari sampel itu kemudian dikombinasikan dengan data perekonomian daerah pada periode 2001-2008.

"Temuan ini menegaskan bahwa tata kelola pemerintahan lebih merupakan gejala yang menjelaskan pertumbuhan, bukan menjadi faktor penyebab pertumbuhan," kata Neil.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau