Mata uang

BI Pantau Kemungkinan Perang Kurs

Kompas.com - 28/10/2010, 15:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia memantau terus perkembangan ekonomi global terutama kemungkinan terjadinya perang kurs yang bisa terjadi sebagai konsekuensi program stimulus negara maju terutama Amerika Serikat. Program stimulus AS yang melakukan quantitative easing dengan menambah likuiditas di pasar melalui pembelian US Treasury.

Direktur Direktorat Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Hendar kepada Antara di Jakarta, Kamis (28/10/2010), mengatakan BI terus memperhatikan dinamisasi kondisi di luar negeri karena keberhasilan program stimulus AS sangat bergantung pada sikap China untuk mempercepat relaksasi yuan.

Jika yuan tetap undervalue (rendah) sehingga barang China tetap murah, AS akan mengalami defisit neraca berjalan yang permanen dan kegagalan ekonomi AS itu bisa berdampak luas mengingat peran AS sebagai pasar utama yang menyerap barang ekspor negara berkembang.

"Perlambatan ekonomi AS akan memperlambat ekonomi global melalui mekanisme ekspor. Maka perang kurs akan memberikan dampak pada inflow, ekspor dan inflasi di semua negara," kata Hendar.

Menurutnya arus dana asing masuk yang besar akan memberikan tekanan penguatan rupiah, sehingga di satu sisi, menguatnya rupiah menyebabkan daya saing ekspor berkurang karena nilai tukar menjadi kurang kompetitif.

Di sisi lain, penguatan rupiah mengurangi tekanan inflasi melalui penurunan harga barang impor. "Jadi dampak secara keseluruhan tergantung pada tingkat sensitivitas kurs terhadap inflasi dan ekspor. Pada krisis 2008, ekonomi Indonesia teruji mempunyai daya tahan tinggi terhadap gejolak ekonomi global karena pasar domestik yang cukup besar mampu menyerap permintaan," katanya.

Dalam konteks ini Bank Indonesia juga mempertimbangkan tingkat daya saing dengan negara lain karena penguatan nilai tukar tidak hanya dialami Indonesia tetapi juga seluruh pesaing ekspor.

Penguatan paling kecil terjadi pada yuan China, dolar Hong Kong dan dollar Taiwan yang cenderung menjaga nilai tukarnya tetap rendah, sementara mata uang negara eksportir lain menguat dibandingkan rupiah.

Misalnya ringgit Malaysia dan baht Thailand yang menguat 10,58 persen dan 11,67 persen pada 2010, sedangkan Rupiah menguat cukup moderat sebesar 5,51 persen.

Namun, menurut Hendar tren pelemahan dollar AS masih akan terus berlanjut karena telah berpindahnya motor ekonomi global dari negara maju ke negara berkembang seperti terlihat pada pertemuan G-20 baru-baru ini yang memberi peran lebih besar pada negara berkembang di IMF.

Para pemimpin negara anggota G-20 juga menyatakan tidak akan melemahkan mata uang untuk menjaga daya saing ekspor, sehingga tren pelemahan dollar AS atau tekanan penguatan mata uang lain masih akan berlanjut.

Untuk menahan tekanan capital inflows dan mengurangi penguatan rupiah, BI mengambil beberapa langkah secara komprehensif yaitu melihat kesesuaian penguatan rupiah dengan indikator ekonomi makro lainnya yang tidak membahayakan keseimbangan eksternal, khususnya keberlanjutans neraca berjalan. "BI juga akan melakukan sterilisasi secara terukur untuk meminimalkan fluktuasi pergerakan kurs serta memberikan ruang bagi kenaikan cadangan devisa yang bermanfaat untuk cadangan jika terjadi pembalikan," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau