Palembang, Kompas -
Hasil pemantauan di Desa Sembawa dan Desa Air Batu, Kabupaten Banyuasin, Kamis (28/10), sebagian petani plasma dan nonplasma memprioritaskan aktivitas ekonomi di sektor perdagangan dan jasa ketimbang menggarap lahan. Tidak terlihat ada aktivitas produksi di kebun.
”Kegiatan di kebun fokus pada pembersihan sampah daun dan plastik di lahan serta membuang sisa tandan buah segar yang berserakan. Kalau urusan ini cepat selesai, saya bisa mengurus warung,” kata Sungwe (34), petani Desa Tunggul, Talang Kelapa,
Kepala Bidang Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan Minarsih membenarkan soal penurunan harga ini. Tak hanya crude palm oil (CPO), harga tandan buah segar (TBS) selama Oktober juga turun dari kisaran Rp 4.000-Rp 5.000 kg menjadi Rp 1.341 per kg
Minarsih memperkirakan dua penyebab anjloknya harga, yakni turunnya produksi setelah panen raya, September lalu, dan berkurangnya transaksi ekspor CPO ke Amerika Serikat dan Eropa.
”Penurunan ekspor CPO dipengaruhi menguatnya isu boikot CPO Sumsel dan Sumut. Boikot itu mengakibatkan pengusaha di Amerika Serikat dan Eropa menunda sementara transaksi,” ujarnya.
Pengurus Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Sumsel Sumarjono Saragih mengaku tak gentar dengan isu boikot CPO itu. Jika isu ini menjadi kenyataan, pengusaha sudah siap mengantisipasinya. ”Salah satunya mengalihkan pasar ekspor CPO ke negara-negara Afrika dan Timur Tengah. Pangsa pasar CPO masih terbuka luas,” katanya.