Jangan Traveling dengan Kepala Kosong

Kompas.com - 29/10/2010, 09:02 WIB

KOMPAS.com - Menjadi solo traveler memungkinkan bagi perempuan. Hal ini sudah dibuktikan Ukirsari R Manggalani, pejalan independen yang telah mengarungi sekitar 31 negara di luar negerinya sendiri, Indonesia. Aturan paling penting jika memilih traveling sendirian adalah buat perencanaan matang dan detail.

"Semakin detail perencanaan traveling, semakin murah cost yang dikeluarkan. Jangan pernah pergi dengan kepala blank," kata perempuan yang akrab disapa Ari ini kepada Kompas Female, beberapa waktu lalu.

Rencana terperinci lengkap dengan backup plan Jika sudah menetapkan negara atau kota tujuan, mulailah membuat perencanaan terperinci. Tentu saja, Anda juga sudah harus memperhitungkan anggaran berdasarkan rumus biaya perjalanan.

Berdasarkan pengalaman traveling, Ari menyebutkan, untuk perjalanan di Eropa dibutuhkan anggaran sekitar Rp 500.000 per hari untuk makan dan transportasi, sedangkan di Asia biayanya di bawah angka tersebut. Perhitungan biaya perjalanan adalah kebutuhan sehari (makan dan transportasi) dikalikan lama waktu perjalanan. Tentu saja ini di luar tiket dan akomodasi. Siapkan juga dana cadangan untuk dua malam plus satu harga tiket.  

Nah, Anda sudah mendapatkan gambaran detail tentang durasi traveling, tempat tujuan, dan dana yang harus Anda sediakan. Jangan puas sampai di situ. Anda juga perlu membaca atau mencari informasi mengenai tempat tujuan. Terutama jika Anda ingin mengunjungi negara yang memiliki catatan khusus atau dalam konflik.

Konflik tak hanya bicara soal perang, namun juga hubungan internasional antarnegara. Contohnya, jika di paspor Anda terdapat cap Srilanka, Anda dilarang memasuki Inggris selama dua tahun. Setidaknya, dengan menggali berbagai informasi seperti ini, Anda tak kaget ketika dilarang masuk ke suatu negara.

Gambaran umum tentang tempat tujuan juga membantu Anda menjalankan opsi rencana. Dengan pemahaman umum dari berbagai sumber informasi, Anda lebih bersiap menghadapi berbagai kondisi saat tiba di lokasi.

"Jika gambaran yang didapat dari buku atau berbagai sumber 85 persennya sesuai, ini pertanda baik. Namun jika ternyata jauh dari gambaran, tandanya harus bersiap menjalani plan A atau B," jelas Ari.

Pesan tiket enam bulan sebelumnya Perencanaan waktu perjalanan terkait dengan banyak soal. Mulai mengurus jatah cuti pekerjaan, memesan tiket, dan tentu saja anggaran.

Saat melakukan perjalanan panjang lebih dari seminggu, artinya Anda meninggalkan pekerjaan dalam waktu lama untuk menjalani hobi. Hal ini tentu perlu dipersiapkan jauh hari. Anda juga perlu bekerja ekstra beberapa bulan sebelum cuti, sebagai gantinya waktu cuti lebih panjang dan perjalanan pun lebih memuaskan.

Selain persoalan cuti, urusan penting lain adalah tiket. Biasanya maskapai penerbangan menawarkan tiket murah beberapa bulan sebelum waktu perjalanan. Artinya, Anda sudah harus memesan dan membayar tiket sekitar enam bulan sebelum keberangkatan. Semakin lama tiket dipersiapkan, Anda berpeluang menekan biaya tiket perjalanan.

Memilih penginapan Penginapan murah semakin banyak ditawarkan seiring semakin populernya konsep backpacker. Bahkan Anda bisa menginap di tempat teman di negara tujuan yang dikenal dari komunitas semacam Couch Surfing. Untuk menghemat, pesan hotel jauh hari. Jika tujuannya ke Eropa, pembayaran bisa dilakukan dengan kartu kredit. Namun, untuk destinasi Asia, bayar hotel dengan uang tunai saja, saran Ari.

Penginapan dengan sistem asrama berkapasitas 24 orang per kamar bisa menjadi alternatif lainnya. Banyak pilihan untuk penginapan, asalkan Anda sudah mempersiapkannya lebih detail.

Priotitas kunjungan Saat tiba di negara atau kota tujuan, jangan pernah jalan-jalan tanpa rencana. Anda sudah harus mempersiapkan rencana perjalanan mengunjungi tempat favorit di lokasi tujuan. Untuk memulai perjalanan di lokasi tujuan, buat prioritas berdasarkan jarak dan tempat favorit.

Mulailah dari tempat terjauh dari penginapan. Misalnya, jika Anda merencanakan mengunjungi museum, pedesaan, atau pantai dari suatu negara, pilih yang lokasinya paling jauh. Lalu semakin mendekati penginapan. Cara ini bisa menghemat atau setidaknya mengatur biaya transportasi.

Saat mengunjungi suatu tempat, dan Anda menemukan benda menarik untuk dijadikan buah tangan, segeralah beli jika memang sangat menginginkannya. Karena, akan memakan biaya transportasi jika Anda memutuskan membelinya setelah jauh meninggalkan kawasan tersebut.

"Namun membeli oleh-oleh pun perlu diperhitungkan dan direncanakan. Tak asal beli saat ada yang diincar," tambah Ari.

Manfaatkan fasilitas "gratis" Sebenarnya tak ada fasilitas yang sepenuhnya gratis. Kecuali misalnya, air minum di taman yang sering ditemui di Eropa. Anda bisa memanfaatkan air gratis ini kapan saja dan mengurangi biaya pembelian air mineral.

Sejumlah fasilitas yang perlu dimanfaatkan untuk menghindari anggaran membengkak di antaranya makanan. Saat berada di pesawat, Ari mengaku sering menyimpan mentega untuk cadangan makanan.

"Mentega kualitas premium ini penambah energi. Saya seringkali menyimpan mentega dari pesawat, dan berguna saat kehabisan makanan saat perjalanan," katanya lagi.

Fasilitas olahraga di hotel atau penginapan juga bisa dimanfaatkan untuk menjaga stamina. Traveling membutuhkan stamina ekstra. Anda juga perlu meluangkan waktu berolahraga. Manfaatkan tangga, lakukan gerakan naik-turun dengan intensitas teratur. Olahraga gratisan ini membantu Anda menjaga kondisi fisik. Jika hotel Anda menyediakan kolam renang, manfaatkan fasilitas ini untuk berolahraga. Jogging track di taman bisa juga menjadi sarana olahraga irit biaya. Anda mengurangi biaya ke gym dengan cara-cara ini.

"Menyewa sepeda juga bisa menjadi alternatif lain berolahraga sekaligus mengirit biaya transportasi," kata Ari yang pernah menyewa sepeda saat berada di Mesir dan Bali.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau