Hanya untuk Para Meat Lover!

Kompas.com - 29/10/2010, 17:04 WIB

KOMPAS.com - “Ternyata memasak steak ala restoran itu mudah,” pikir Anda setelah melihat acara memasak di televisi. Anda pun bergegas ke swalayan dan membeli daging sapi. Aduh! Ternyata daging yang Anda beli bukan daging untuk steak, melainkan untuk rendang.

Rasanya sungguh menjengkelkan, ya? Jangan cepat putus asa karena sebenarnya cara memasak daging sapi tidaklah sulit, asal tahu yang pas dan piawai dalam memilih daging yang tepat plus berkualitas. Nah, apa saja yang harus diperhatikan agar daging yang dibeli benar-benar segar dan halal?

Swalayan atau pasar?
Belakangan ini, beberapa pasar swalayan mulai banyak menjual daging yang diperoleh dari bibit luar negeri yang dikembangkan di sini. Untuk harga, memang lebih murah dibandingkan daging sapi lokal.

Biasanya, konsumen kurang awas sehingga kurang pandai membedakan jenis-jenis daging ini. Salah satunya karena tampilan yang nyaris serupa. Berbeda dengan hewan ternak kecil seperti unggas, malah lebih mudah dibedakan karena jenis dagingnya sangat berbeda.

Nah, jangan segan bertanya kepada butcher di counter daging. Biasanya, informasi yang diberikan cukup membantu, lho! Anda pun bisa meminta langsung daging dipotong sesuai kebutuhan. Praktis, kan?

Untuk mengetahui daging yang disembelih secara legal alias dipotong dengan tata cara pemotongan sesuai syariat Islam, biasanya ia ditandai dengan cap berwarna ungu yang berasal dari Dinas Peternakan setempat. Jadi, jangan terjebak dengan harga murah. Lebih baik mengeluarkan uang lebih banyak asalkan dagingnya berkualitas. Oleh karena itu, belilah daging di tempat-tempat yang resmi.

Sementara, di pasar tradisional biasanya penjual daging sapi terpisah dengan daging babi. Meski dijual dalam rak terpisah tidak ada jaminan pemisahan juga dilakukan pada ruang pendingin dan penggunaan peralatan. Maka, jangan segan untuk bertanya kepada pihak swalayan tentang asal daging, dan ada atau tidaknya sertifikat halal.

Biasanya daging sapi yang baik memiliki ciri-ciri fisik yang mengilap, berwarna cerah (merah) atau tidak pucat, tidak berbau asam atau busuk. Saat dipegang daging juga akan terasa basah, namun tidak lengket di tangan, elastis, dan tidak lembek. Belilah daging yang digantung untuk menghindari daging sapi gelonggongan.

Trik membersihkan
Sebelum daging dipotong untuk berbagai keperluan, bersihkan otot-otot dan lemak yang tidak diinginkan. Jika perlu, cuci dan keringkan dengan tisu dapur atau serbet bersih. Hindari mencuci daging setelah dipotong, ya!

Buang lemak-lemak yang menempel pada daging, arahkan mata pisau yang tajam ke permukaan otot. Setelah dicuci, masukkan ke dalam freezer.

Macam-macam potongan
Potongan daging yang rapi dan serasi akan menjadikan tampilan masakan semakin menarik.

Satai dan gulai:
Pilih bagian paha (inside), bentuk dadu kecil, tebal 1-2 cm untuk satai. Bentuk dadu besar, tebal 3-4 cm untuk rendang dan gulai.

Dendeng dan empal:
Pilih bagian paha depan, lalu sayat tipis arah membujur. Setelah itu potong sayatan sesuai ukuran yang dikehendaki. Untuk empal, rapikan pinggirannya sampai berbentuk balok lalu potong membujur setebal 1 cm.

Semur:
Pilih daging paha dalam, lalu Anda tinggal merapikan pinggiran daging. Agar bagus bentuknya, potong melintang setebal 1-2 cm.

Sukiyaki:
Untuk daging jenis ini, pilihlah daging has luar (sirloin). Masukkan daging dalam lemari pendingin sampai cukup keras dan mudah dipotong. Potong tipis dengan pisau tajam melintang serat.

Tumis:
Has dalam cocok untuk masakan sayur yang dicampur daging iris, karena cepat empuk. Potong daging agak tebal, melintang serat. Lalu potong tipis sehingga diperoleh potongan tipis memanjang.

(Tabloid Nova/Nuraini W)


KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau