5 Cara Memahami Pria dengan Lebih Baik

Kompas.com - 30/10/2010, 14:29 WIB

KOMPAS.com - Pria selalu mengatakan, bahwa perempuan adalah mahluk yang paling sulit dimengerti. Tetapi sebenarnya, perempuan juga selalu merasa mereka tak mampu memahami pikiran pria. Misalnya, mengapa mereka bisa menyatakan cintanya, tetapi langsung mengabaikan Anda hari berikutnya (ketika ada pertunjukan bola di televisi)? Mengapa mereka tak bisa mengingat hari ulang tahun Anda?

Menurut Laura Schaefer, penulis buku Man with Farm Seeks Woman with Tractor: The Best and Worst Personal Ads of All Time, hal ini sebenarnya disebabkan oleh perbedaan pria dalam menggunakan otak mereka. Jika Anda mengetahui cara kerja otak ini, Anda tentu akan memahami pria dengan lebih baik. Berikut beberapa contohnya.

1. Bersabarlah dengan memorinya
Hippocampus, dimana memori awal dibentuk, menempati beberapa persen saja dari otak pria, dibandingkan dengan otak perempuan. Jika saat baru berkenalan ia lupa dimana Anda bekerja, meskipun Anda sudah memberitahukannya pertama kali, ingat sajalah urusan hippocampus itu. Tak perlu tersinggung, mengira ia tidak menaruh perhatian pada Anda. Atau, jangan kesal juga bila setelah beberapa lama tak bertemu, ia tak sadar bahwa Anda baru saja memotong rambut.

2. Pria bukan pembaca bahasa tubuh atau pikiran Anda
Anda tertarik dengan seorang pria? Anda harus menyatakannya dengan lebih jelas, meskipun itu dalam bentuk perbuatan. Sebab, pria tidak terampil membaca emosi atau pikiran Anda. Menurut Dr Larry Cahill dari University of California at Irvine, “Kita selalu berasumsi bahwa cara otak pria mengelola emosi itu sama dengan wanita, tapi ternyata tidak."

Bagian dari korteks limbik, yang terlibat dalam respons emosional, pada pria lebih kecil daripada wanita. Selain itu, menurut para peneliti McMaster University, pria memiliki densitas neuron yang lebih kecil di area lobus temporal yang berhubungan dengan pengolahan bahasa. Itu sebabnya akan lebih baik bila Anda mengatakan saja bagaimana perasaan Anda. Berharap bahwa si dia bisa membaca pikiran Anda, sama sekali tak ada gunanya.

3. Ia tidak bisa berbicara dengan gaya seperti Anda
Secara umum, pria tidak severbal kaum perempuan. Bagian besar dari korteks (lapisan luar otak yang berperan dalam mengenali dan menggunakan isyarat bahasa) lebih tipis pada pria daripada wanita. Studi yang dilakukan Dr Godfrey Pearlson dari Johns Hopkins University pun menunjukkan bahwa dua area di lobus frontal dan temporal yang memainkan peran penting dalam pemrosesan bahasa, lebih kecil pada pria.

“Perempuan itu,” jelas Dr Cahill, “tangkas dalam menerima isyarat atau kata-kata yang diberikan." Sebaliknya, pria tidak begitu. Jadi, jangan mengira ia bisa ngobrol dengan Anda saat berkencan dengan kemampuan seorang perempuan. Tetapi Anda juga tidak perlu menganggap bahwa ia tidak tertarik pada Anda, hanya karena ia sering memotong pembicaraan Anda.

4. Hargai sikapnya yang cenderung bersemangat
Otak pria memproduksi serotonin (senyawa kimia yang memengaruhi mood) 52 persen lebih banyak daripada otak wanita, demikian menurut penelitian yang diadakan oleh McGill University. Studi juga menunjukkan bahwa pria lebih jarang mengalami depresi ketimbang wanita. Sebab pria lebih mudah mengalihkan perhatiannya dari stres. Jika ia mengatakan baru saja kehilangan pekerjaan, dan tidak terlihat sedih, tidak berarti ia tidak punya hati, atau tidak bertanggung jawab. Ia hanya tidak ingin memikirkannya terlalu banyak, berkat serotonin dalam sistemnya.

5. Jangan berharap ia bisa mengingat detail dari kejadian masa lalu
Ia mungkin tidak mampu mengenang masa lalu dengan cara seperti yang Anda lakukan. Anda berdua mungkin akan mengingat masa-masa kencan pertama, tetapi ia mungkin tidak ingat warna pakaian yang Anda kenakan, atau bahwa saat itu sedang turun hujan. Pria tidak mampu mengingat detail, maka tak perlu memaksanya untuk berusaha mengingat-ingat hal semacam itu.


KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau