CCTV di Lokalisasi Dolly, untuk Apa?

Kompas.com - 31/10/2010, 06:49 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com--Rencana Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, memasang kamera pemantau (closed circuit television/CCTV) di lokalisasi Dolly, dinilai hanya akan mempermalukan orang.

Ini ditegaskan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah. Ia malah menanyakan fungsi pemasangan CCTV di kawasan lokalisasi.

"Untuk apa dipasang CCTV? Jangan, dan itu mempermalukan orang. Persoalannya, ini kan bisnis tubuh, ada yang jual dan ada yang beli. Mereka tahu itu dosa, tapi bagaimana lagi karena yang jual butuh makan," ujarnya ketika ditemui di Surabaya, Sabtu.

Kendati demikian, ia mengaku setuju dengan wacana Gubernur Jatim Soekarwo, yang bakal menutup lokalisasi Dolly di kawasan Putat Jaya dan sekitarnya.

"Kalau ditanya setuju atau tidak, saya setuju dengan penutupan itu. Dari dulu sebenarnya sudah dilarang, dan yang saya dengar, gubernur tidak ingin ikut berdosa dengan membiarkan prostitusi dilegalkan," ucap adik kandung mantan Presiden KH Abdurrachman Wahid atau Gus Dur tersebut.

Hanya saja permasalahannya, adalah perkara apa yang akan dilakukan para pekerja seks komersial (PSK) jika nanti usahanya ditutup? Kata Gus Sholah, faktor inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah setempat.

"Sah-sah saja dan saya setuju dengan penutupan lokalisasi, tapi mereka (PSK, red) butuh makan dan ingin hidup. Kalau tempat pekerjaannya ditutup, bagaimana mereka bertahan?" ucap mantan Wakil Ketua Komnas Hak Asasi Manusia tersebut.

Karena itu, pihaknya meminta kepada Pemprov Jatim untuk memberikan lapangan pekerjaan yang baru kepada para PSK, jika nantinya penutupan benar-benar direalisasikan. Ia juga yakin, semua PSK awalnya tidak ada niat dan tidak ingin terjun ke bisnis haram itu.

"Namun, mereka melakukannya demi makan dan bertahan hidup. Jadi, saat pekerjaan mereka ditinggalkan maka harus ada pekerjaan baru dan sudah mendapat jaminan dari pemerintah," tukas pria kelahiran Jombang, 68 tahun lalu tersebut.

Sebelumnya, Gubernur Jatim mewacanakan menutup lokalisasi Dolly dan menyerahkan sepenuhnya ke Pemerintah Kota Surabaya. Namun, Wali Kota Tri Rismaharini mengaku masih akan melakukan pendekatan secara fisik maupun nonfisik terhadap para PSK.

Bahkan, pemerintah juga berencana memasang CCTV di area lokalisasi terbesar di kawasan Asia Tenggara itu.

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau