OECD, Tidak Ada Ruang Berpuas Diri

Kompas.com - 01/11/2010, 12:17 WIB

 

JAKARTA, KOMPAS.com — Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan  mengingatkan bahwa tidak ada ruang untuk berpuas diri bagi Indonesia meskipun sudah mencatatkan pertumbuhan ekonomi ketiga tertinggi di saat krisis keuangan global 2008. Masih banyak reformasi yang harus dilakukan agar pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), Angel Gurria, mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Senin (1/11/2010), saat menyampaikan sambutannya dalam acara Peluncuran Enam Buku Laporan Review Ekonomi Indonesia dan Laporan Hasil Survei Investasi yang dilakukan oleh OECD bersama Pemerintah Indonesia. Gurria menyampaikan sambutan bertajuk "Menuju Indonesia yang Lebih Kuat Setelah Krisis Ekonomi Dunia: Maju Kedepan dengan Reformasi".

"Tidak ada ruang untuk berpuas diri. Reformasi lanjutan diperlukan jika Indonesia berniat mencapai sasaran pembangunan ekonomi yang ambisius, seperti yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah. Terutama target menurunkan jumlah penduduk miskin," ujar Gurria.

Menurutnya, kondisi lingkungan ekonomi yang ada saat ini menawarkan peluang unik untuk mengejar agenda reformasi. Manfaat yang muncul dari upaya reformasi struktural sejak krisis moneter Asia tahun 1998 pada akhirnya sudah mulai terasa. Dengan demikian, Indonesia mulai diketahui sebagai negara dengan ekonomi yang stabil, dengan kondisi keuangan publik yang sehat dan kerangka kerja makroekonomi yang berfungsi dengan baik.

"Capaian ini jangan dianggap sepele. Hal ini mengarahkan para lembaga pemeringkat utang untuk menaikkan peringkat utang Pemerintah Indonesia dengan prospek yang kuat menuju Investment Grade (peringkat utang tertinggi dalam pemeringkatan utang tersebut). Namun, tidak ada ruang untuk berpuas diri," ujar Gurria.

Ada tiga hal yang direkomendasikan dalam Laporan Review Ekonomi Indonesia dan Laporan Hasil Survei Investasi OECD ini agar Indonesia dapat mendorong pertumbuhan yang inklusif dan lebih berkelanjutan. Pertama, Indonesia perlu menciptakan ruang fiskal untuk anggaran investasi dalam program pro-growth, seperti pengembangan infrastruktur dan akumulasi sumber daya manusia.

Kedua, dibutuhkan reformasi pasar tenaga kerja dan kebijakan sosial untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Ketiga, dibutuhkan investasi di sektor infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. (OIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau