Honda CBR 250R Berani Rem Dekat

Kompas.com - 01/11/2010, 13:25 WIB

BIRA, KOMPAS.COM - Selain menyaksikan langsung peluncurannya, Kompas.com juga mendapat kesempatan menjajal langsung Honda CBR 250R yang digelar di sirkuit Bira yang lokasinya 195 km dari Bangkok atau 30 km dari Pattaya. Setiap media diberi kesempatan 15 menit untuk mengitasi sirkuit berjarak 2,4 km yang memiliki 8 tikungan itu.

Dalam waktu yang singkat itu, tiga poin utama yang ingin dirasakan dari model sepeda motor sport ini. Pertama, seperti apa kenyamanan, pengendalian, dan manuver dari CBR 250R yang katanya dikembangkan untuk pengendara di dunia, mulai dari yang pemula sampai berpengalaman.

Kedua, seperti apa tenaga mesin yang berkapasitas 249 cc. Terakhir, penasaran seperti apa kehebatan teknologi rem ABS yang diklaim pertama di dunia dipakai pada motor berkapasitas seperempat liter ini.

Saat duduk di atas sadel, sosok CBR 250R ketika dipandang dari atas tampak seperti motor 400 atau 600 cc. Ini mungkin pengaruh dari desain fairing yang besar dipadu model instrumen panel yang kecil dan terletak di tengah. Desain indikatornya pun simpel, berupa takometer analog dengan penunjuk kecepatan berupa digital cukup besar di bagian tengah bawah.

Kerangka Diamond Untuk mengenal kondisi lintasan, kami dituntun oleh instruktur mengitari lintasan dua lap. Di sini saya merasakan, desain sadel yang terpisah dapat dengan lincah memindahkan bokong saat manuver di tikungan, baik ke kiri maupun ke kanan. Bahkan badan tidak terasa cepat capai meski sudah melahap lebih lima lap.

Boleh jadi, ini didukung oleh desain setang (model) jepit yang gripnya tidak membuat badan membungkuk. Bahkan ketika motor disengaja menabrak "kerb" di tikungan "S" ringan dengan sudut kemiringan 75 derajat, goncangan hampir tidak terasa. Padahal, saat itu kecepatan 80 km/jam.

Mungkin ini karena rancangan kerangka model "diamond" dari pipa baja yang dipadu dengan suspensi Pro-Link. Desain ini diklaim dapat meredam kondisi permukaan jalan.

Nekad karena ABS Setelah mengitari dua lap, rombongan saya harus berhenti di garis start, kemudian dilepas bebas satu per satu. Di sini saya menjajal tenaga 249 cc DOHC 4-Tak, 4- katup silinder tunggal yang dilengkapi sistem pendingin cairan. Sekaligus menguji sistem penghenti laju yang memakai kombinasi CBS (Combined Brake System) dan ABS (Anti-lock Brake System) yang diklaim pertama di dunia untuk motor 250 cc.

Lantunan suara khas Honda ketika grip gas dibetot masih terdengar. Kala melakukan akselerasi tiap gigi, untuk persneling satu dengan putaran mesin maksimal 10.500 rpm, kecepatan maksimum hanya sampai 31 km/jam, mungkin pemakaian gigi rasio yang 3.333, sedang gigi 2 dicapai 52 km/jam dan gigi 3  87 km/jam.

Sedang kecepatan maksimum dicapai 151 km/jam. Itu pun dengan trik, ke luar tikungan kedua terakhir langsung tancap gas. Sebetulnya, kecepatan maksimum sesungguhnya 146 km saat di trek lurus. Namun ada jalan menurun jelang tikungan terakhir gas masih terus dibetot.

Kompas.com coba melakukan pengereman jarak dekat (50 meter). Ternyata, rem ABS sangat membantu dan motor tidak goyang saat tuas rem depan ditarik yang secara bersamaan dibantu rem belakang. Padahal, tikungan pertama itu cukup sulit.

Asyiknya, trek mempunyai jalanan menanjak dan menurun. Hanya, gigi 4 tidak secepat 3, barangkali ini sudah masuk untuk kepentingan turing. Tapi, secara keseluruhan, terutama untuk menuver sangat nyaman dan berani melakukan "panic braking" karena ABSnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau