Sisminbakum

Yusril: Sisminbakum PNBP? Itu Rampok

Kompas.com - 01/11/2010, 19:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Saat menjadi Menteri Kehakiman dan HAM, Yusril Ihza Mahendra mengatakan bahwa proyek Sistem Administrasi Badan Hukum atau Sisminbakum tidak mungkin dikenai penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Pasalnya, seluruh modal dan biaya operasional ditanggung swasta karena termasuk dalam proyek built, operate, and transfer atau BOT.

"Tidak ada proyek BOT itu masuk dalam PNBP. Swasta membiayai proyeknya dan lalu malah dikenai PNBP, ini seperti perampok. Inilah satu-satunya proyek BOT yang dituduh korupsi," ungkap Yusril, Senin (1/11/2010) di Mahkamah Konstitusi, Jakarta.

Ia pun menjelaskan bahwa setiap pihak harus melihat permasalahan Sisminbakum dalam konteks ekonomi negara pasca-krisis. Saat itu, Yusril mengungkapkan, perekonomian Indonesia perlu didongkrak. Salah satunya adalah dengan mendatangkan investor. Akan tetapi, para investor mengeluh perihal sulitnya dan lamanya pembentukan perusahaan di Indonesia. Sebagai solusi, dibentuklah Sisminbakum yang berbasis online sehingga lebih mudah dan cepat.

"Tapi saat itu karena Gus Dur (Presiden ketika itu) tidak punya APBN sendiri, maka dikatakan mengundang swasta lewat proyek BOT selama 10 tahun dengan proyek Sisminbakum. Sudah ada 26.000 perusahaan yang disahkan dan mendapat berbagai penghargaan," tandas Yusril.

Perkara Sisminbakum berawal dari adanya kebijakan yang memberikan 90 persen biaya akses kepada PT Sarana Rekatama Dinamika (SRD) dan 10 persen kepada Koperasi Pengayoman Pegawai Departemen Kehakiman (KPPDK). Menurut Kejaksaan Agung, biaya akses tersebut harusnya masuk ke dalam kas negara melalui PNBP.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau