HB X: Sleman Darurat

Kompas.com - 02/11/2010, 03:44 WIB

SLEMAN, KOMPAS - Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X mengemukakan, keadaan darurat diberlakukan di Kabupaten Sleman karena berlanjutnya status Awas Merapi. Dana untuk pemenuhan kebutuhan pengungsi disediakan tak terbatas.

”Dana anggaran pembangunan dan belanja daerah Sleman yang bisa ditunda dialihkan dulu untuk menangani pengungsi,” kata HB X di Posko Utama Penanggulangan Bencana Alam Kabupaten Sleman, Senin (1/11).

HB X mengatakan, selama situasi belum normal, semua keperluan pengungsi di barak akan dibiayai pemerintah daerah. Penggantian ternak mati yang mencapai 345 sapi juga akan diusahakan. Proses pendataan warga yang kehilangan ternak kini tengah dilakukan.

Menurut HB X, penyediaan dana tak terbatas juga dilakukan saat gempa bumi 2006. Pemerintah daerah diminta memprioritaskan dana mendesak untuk penanganan korban Merapi.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengatakan, dana penanggulangan bencana Rp 150 miliar bisa dipakai sewaktu-waktu. Dana dialokasikan untuk tanggap darurat Merapi, Mentawai, dan Wasior. ”Dana on call bisa dipakai. Jumat lalu saya yang meneken atas nama DPR dan saya tunjukkan kepada Menteri Keuangan,” ujar Priyo.

Pembagian dana sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah, Menteri Keuangan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan Menteri Sosial. Asal sesuai dengan mekanisme, dana cair.

Bupati Sleman Sri Purnomo akan segera mengajukan permintaan dana. Ia memperkirakan kebutuhan tanggap darurat sekitar Rp 21 miliar. Sleman memerlukan dana itu karena anggaran daerah hanya Rp 4 miliar.

Bendera Merah Putih

HB X juga mengkritik pemasangan spanduk dan bendera instansi, organisasi, dan elemen masyarakat lain yang marak di kawasan bencana dan barak pengungsian. Dia berharap spanduk dan bendera itu segera diturunkan karena bisa membuat penduduk yang menjadi korban merasa dimanfaatkan.

”Sebaiknya yang dipasang itu bendera Merah Putih saja. Kalau bukan bendera Merah Putih, lebih baik diturunkan,” katanya.

Sejak hari pertama setelah erupsi, spanduk dan bendera bertebaran di sekitar barak pengungsian. Selain organisasi masyarakat, spanduk yang terpasang bertuliskan nama partai politik, provider telepon seluler, merek sepeda motor, serta produk makanan dan minuman. Beberapa spanduk di tepi jalan bahkan tidak disertai pembangunan posko ataupun aktivitas pemasangnya.

”Ironis. Selimut untuk pengungsi kurang, spanduk justru berlimpah di tepi-tepi jalan,” ujar relawan Muhammad Marzuki.

Beras banyak

Kepala Perum Bulog Divisi Regional Yogyakarta Murino Mudjono menuturkan, untuk kebutuhan pengungsi, Sleman memiliki jatah beras 100 ton. Jika tak mencukupi, bisa digunakan milik Provinsi DI Yogyakarta yang mencapai 200 ton. ”Persediaan beras untuk kebutuhan pengungsi masih banyak, tidak perlu khawatir,” katanya.

Murino juga mengimbau agar sumbangan bahan pangan berupa lauk-pauk dan bumbu masak diutamakan. (IRE/ARA/PRA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau