”Dana anggaran pembangunan dan belanja daerah Sleman yang bisa ditunda dialihkan dulu untuk menangani pengungsi,” kata HB X di Posko Utama Penanggulangan Bencana Alam Kabupaten Sleman, Senin (1/11).
HB X mengatakan, selama situasi belum normal, semua keperluan pengungsi di barak akan dibiayai pemerintah daerah. Penggantian ternak mati yang mencapai 345 sapi juga akan diusahakan. Proses pendataan warga yang kehilangan ternak kini tengah dilakukan.
Menurut HB X, penyediaan dana tak terbatas juga dilakukan saat gempa bumi 2006. Pemerintah daerah diminta memprioritaskan dana mendesak untuk penanganan korban Merapi.
Di tempat yang sama, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengatakan, dana penanggulangan bencana Rp 150 miliar bisa dipakai sewaktu-waktu. Dana dialokasikan untuk tanggap darurat Merapi, Mentawai, dan Wasior. ”Dana on call bisa dipakai. Jumat lalu saya yang meneken atas nama DPR dan saya tunjukkan kepada Menteri Keuangan,” ujar Priyo.
Pembagian dana sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah, Menteri Keuangan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan Menteri Sosial. Asal sesuai dengan mekanisme, dana cair.
Bupati Sleman Sri Purnomo akan segera mengajukan permintaan dana. Ia memperkirakan kebutuhan tanggap darurat sekitar Rp 21 miliar. Sleman memerlukan dana itu karena anggaran daerah hanya Rp 4 miliar.
HB X juga mengkritik pemasangan spanduk dan bendera instansi, organisasi, dan elemen masyarakat lain yang marak di kawasan bencana dan barak pengungsian. Dia berharap spanduk dan bendera itu segera diturunkan karena bisa membuat penduduk yang menjadi korban merasa dimanfaatkan.
”Sebaiknya yang dipasang itu bendera Merah Putih saja. Kalau bukan bendera Merah Putih, lebih baik diturunkan,” katanya.
Sejak hari pertama setelah erupsi, spanduk dan bendera bertebaran di sekitar barak pengungsian. Selain organisasi masyarakat, spanduk yang terpasang bertuliskan nama partai politik, provider telepon seluler, merek sepeda motor, serta produk makanan dan minuman. Beberapa spanduk di tepi jalan bahkan tidak disertai pembangunan posko ataupun aktivitas pemasangnya.
”Ironis. Selimut untuk pengungsi kurang, spanduk justru berlimpah di tepi-tepi jalan,” ujar relawan Muhammad Marzuki.
Kepala Perum Bulog Divisi Regional Yogyakarta Murino Mudjono menuturkan, untuk kebutuhan pengungsi, Sleman memiliki jatah beras 100 ton. Jika tak mencukupi, bisa digunakan milik Provinsi DI Yogyakarta yang mencapai 200 ton. ”Persediaan beras untuk kebutuhan pengungsi masih banyak, tidak perlu khawatir,” katanya.
Murino juga mengimbau agar sumbangan bahan pangan berupa lauk-pauk dan bumbu masak diutamakan.