Luar lapangan

Kayuh, Kayuh... Kok Tidak Meluncur?

Kompas.com - 02/11/2010, 04:10 WIB

Mana yang lebih susah, belajar tenis atau selancar air? Alisa Kleybanova tertawa lebar mendengar pertanyaan itu. Petenis asal Rusia yang montok ini pun menukas, ”Yaa saya belajar tenis sudah 15 tahun yang lalu, jadi lupa bagaimana saya belajar waktu itu. Namun, menurut saya, keduanya sama-sama olahraga profesional yang sulit dilakukan kalau tidak berlatih serius. Ini pertama bagi saya, dan memang sulit, he-he-he.”

Lantas, apa hubungan antara petenis dan selancar air? Ceritanya, senyampang pengundian belum dimulai, tiga dari delapan petenis yang akan bertanding di Commonwealth Bank Tournament of Champions 2010, Senin (1/11), belajar selancar air di pantai di belakang Hotel Westin Nusa Dua, Bali. Sudah menjadi kekhasan di turnamen ini bahwa petenis tidak hanya harus bertanding dan merebut gelar, tetapi juga ditawari berbagai kegiatan menarik di luar tenis. Hanya tiga orang yang tampak sore itu: Alisa Kleybanova, Anastasia Pavlyuchenkova, serta Yanina Wickmayer.

Senin sore pantai Westin riuh oleh teriakan penonton yang menyaksikan papan selancar Pavlyuchenkova terbalik. Petenis asal Rusia ini pun kuyup. Jepretan kamera bertubi-tubi mengabadikan momen itu.

Latihan selancar air, yang sebenarnya adalah sebuah peristiwa biasa, menjadi istimewa saat dikaitkan dengan pergelaran tenis ini. Tiga petenis yang baru pertama kali belajar selancar ini menjadi sebuah tontonan unik. Pengunjung hotel pun ikut-ikutan memotret. Mereka ingin tahu seperti apa jika seorang petenis belajar berselancar.

Jhonny Deaker, pelatih selancar air dari Sekolah Selancar Rip Curl, mulanya meminta ketiga petenis tengkurap di papan selancar yang diletakkan di atas pasir. Ini sesi teori. Pelatih yang sudah 12 tahun melatih untuk Rip Curl ini menjelaskan bagaimana caranya mengayunkan tangan serta berdiri dalam posisi benar di atas papan. Deaker menekankan, belajar selancar itu tidak membutuhkan waktu lama, apalagi bagi olahragawan yang berfisik tangguh dan berotot kuat. ”Tiga puluh menit pasti akan bisa. Kalau mau sampai berbelok-belok, butuh tiga hari,” tegasnya.

Saatnya mencebur ke pantai. Kleybanova lantas melepas T-shirt dan hot pant-nya, menyisakan bikini yang membikin tubuh seksinya terlihat gamblang. Tiga petenis mulai tengkurap di atas papan, dan…. kayuh…. kayuh… kayuh….. Sampai beberapa meter mengayuh, mereka tidak juga berdiri di atas papan. Kapan meluncurnya?

”Bagaimana bisa meluncur kalau tidak ada angin. Tidak menantang,” kata Ian Whitehead, Direktur Ritel dan Urusan Perbankan Bank Commonwealth, yang memang bisa berselancar ini, seraya terbahak.

Intan Novrianita, Koordinator Pemasaran untuk Sekolah Selancar dan Bungy Jumping Rip Curl mengatakan, kondisi seperti ini dalam selancar disebut death low tide, maksudnya benar-benar tidak ada ombak. Papan tidak akan terangkat karena tidak ada angin yang menggerakkannya.

Alhasil, sesi belajar selancar pun menjadi seperti adegan berkecipak bersama air laut. Seru dan lucu. Meski demikian, Wickmayer, Kleybanova, dan Pavlyuchenkova merasa cukup belajar. Yang penting hati senang. ”Belajar selancar itu soal keseimbangan dan mengontrol papan. Harus lengket dengan papan. Saya senang bisa belajar untuk pertama kalinya, mungkin saya akan mencobanya lain waktu,” tutur Wickmayer.

Berikutnya, saatnya berfoto. Ketiga petenis itu pun sudah dianggap belajar berselancar.

(IVV/OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau