Dari Desa Bebas Rokok sampai Malaria Center

Kompas.com - 02/11/2010, 09:48 WIB

Rasanya sulit dipercaya jika salah satu desa di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, yang terletak 1.500 meter di atas permukaan laut, memiliki seorang tokoh yang luar biasa bijak. Ia tidak saja mewajibkan warganya yang akan menikah untuk menanam lima batang pohon, tetapi juga berhasil membuat desanya menjadi kawasan bebas asap rokok.

Sejak di Desa Bone-Bone— demikian nama desa itu—ditemukan kasus flu burung, warga juga diminta tidak lagi beternak ayam ras, cukup ayam kampung. Terakhir, sang tokoh bahkan mengimbau warga untuk tidak memasukkan makanan berbahan pengawet.

”Mereka yang berjualan makanan dengan bahan pengawet diwajibkan membuat bubur kacang hijau untuk seluruh warga. Kalau sudah begitu, kan mereka juga berpikir, berdagang seperti itu bukannya untung,” kata Kepala Desa Bone-Bone Idrus (32), yang menurut Bupati Enrekang La Tinro La Tunrung dipaksa warga memimpin desa tersebut.

Itulah secuil Praktik Cerdas Desa Bone-Bone yang disampaikan dalam Forum Kawasan Timur Indonesia, yang dibuka Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu di Ambon, Maluku, Senin (1/11). Acara tersebut diselenggarakan Kelompok Kerja Forum KTI yang dipimpin Prof Dr Ir Winarni Monoarfa, MS dan dihadiri berbagai kalangan.

Tak hanya Bone-Bone yang berbagi ”keberhasilan” di forum tersebut. Ada juga sejumlah praktik cerdas lainnya. Tentunya dengan berbagai penjelasan rinci dan alasan yang sangat masuk akal sehingga tidak jarang tepuk tangan meriah menggema.

Penonton tampak begitu menikmati pemaparan enam praktik cerdas yang diibaratkan dengan cerita ”perburuan harta karun” itu. Setelah kapal bersandar di Enrekang, pembawa acara yang berperan sebagai nakhoda mengajak hadirin mengunjungi daerah asal praktik cerdas lainnya.

Ketika kapal sampai di Kupang, Nusa Tenggara Timur, penonton disuguhi kisah inspiratif dari Filpin Therik dan Sarci Maukari. Kedua perempuan itu menyegarkan kembali sejumlah desa di Kupang yang kering dari tawa ibu-ibu lewat ”Rumah Perempuan”. Pondok yang didirikan tahun 2002 itu bertujuan mendampingi para ibu yang trauma dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Maraknya kasus KDRT di Kupang tak lepas dari cara pandang laki-laki terhadap perempuan yang berpangkal pada budaya belis dalam pernikahan di NTT. Pemberian sejumlah uang dari pihak laki-laki kepada keluarga mempelai perempuan membuat suami menganggap istri seperti barang dagangan.

Praktik cerdas lain terjadi di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Kawasan bekas rawa-rawa yang kini menjadi tempat permukiman itu merupakan tempat ideal nyamuk malaria berkembang biak. Kejadian luar biasa serangan malaria pernah terjadi sejak tahun 2003 hingga 2007 yang menyebabkan 268 orang meninggal dunia.

Hal itu yang mendorong dr Ahmad Aziz mendesain konsep penanganan malaria terintegrasi. Dokter yang berjuang melawan malaria sejak tahun 1975 itu sukses meyakinkan Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk membangun pusat penanganan malaria yang dikenal dengan Malaria Center. Penanganan Malaria Center mampu menekan korban meninggal akibat malaria dari 205 orang (2003) menjadi 1 orang tahun lalu.

Di Kampung Beneraf di pesisir pantai timur Kabupaten Sarmi, Papua, John Rahail mengenalkan istilah ”sekolah kampung”. Lima tahun silam, anak- anak di daerah berjarak tempuh 8 jam dari Jayapura itu belum terbiasa mandi, berdoa, sarapan, dan mencuci tangan sebelum makan.

Warga Desa Pogalampa, Batauga, Buton, Sulawesi Tenggara, dan warga Lendang Nangka, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menampilkan praktik cerdas lain. Di Pogalampa, warga mengubah kelompok arisan keluarga menjadi koperasi simpan pinjam yang menyisihkan 10 persen keuntungan untuk dana pendidikan sosial.

Di Lendang Nangka, warga membentuk Perusahaan Air Minum Desa (Pamdes). Sejak dibentuk delapan tahun silam, Pamdes mengatasi kesulitan air bersih dengan tarif Rp 200 per meter kubik, jauh lebih murah dari PDAM yang menjual Rp 600-Rp 700 per meter kubik.

Ketua Kelompok Kerja Forum KTI Winarni Monoarfa berharap, ajang ini mampu menebar ”virus” inovasi kreatif yang berbasis pada kekuatan masyarakat. (RIZ/APA/ZAL/REN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau