Benarkah Ada Konflik di Bakrieland?

Kompas.com - 02/11/2010, 15:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -  Hengkangnya Ferdinand Sadeli dari kursi Direktur Keuangan PT Bakrie Development Tbk (ELTY) melahirkan cerita kurang sedap. Spekulasi yang beredar menyebut, Ferdinand hengkang karena tak sepaham dengan para direksi Bakrieland.

Sumber KONTAN di Grup Bakrie menuturkan, dewan direksi Bakrieland tengah terbelah konflik. "Posisi Ferdinand terjepit di antara dua kubu di dalam Bakrieland yang berkonflik," kata si sumber, kemarin.

Selain konflik tersebut, lanjut si sumber, Ferdinand juga tidak sreg dengan aksi penerbitan saham baru (rights issue) ELTY senilai Rp 3,2 triliun pada Juli lalu. Sebagian dana hasil rights issue, yakni Rp 1,9 triliun, digunakan untuk membiayai akuisisi terhadap PT Bukit Jonggol.

Ferdinand, lanjut sumber KONTAN, menganggap akuisisi Bukit Jonggol belum terlalu mendesak mengingat ELTY masih memiliki cadangan lahan alias landbank. "Karena tidak kuat dengan konflik di dalam, Ferdinand akhirnya memilih mundur dari ELTY," jelas sumber yang juga bekerja di Grup Bakrie itu.

Tapi, spekulasi bahwa penyebab pengunduran diri Ferdinand adalah konflik di tubuh ELTY dibantah oleh Nuzirman Nurdin. Sekretaris Perusahaan ELTY tersebut menyatakan Ferdinand mundur semata-mata karena ingin melanjutkan pendidikan.

Ferdinand, menurut Nuzirman, juga mendapat tawaran pekerjaan baru dari perusahaan multinasional. "Pak Ferdinand termasuk salah satu decision maker akuisisi Bukit Jonggol. Jadi, isu tersebut sangat tidak masuk akal," tegasnya.

Ferdinand masuk ke ELTY baru di awal 2010 ini. Ia pernah berkarir sebagai Senior Manager di Ernst & Young pada 2002-2007. Dia menyelesaikan studinya di Universitas Trisakti, Jakarta dan meraih Master of Applied Finance, University of Melbourne, Australia. Sayang, hingga kemarin, KONTAN kesulitan menghubungi Ferdinand.

Analis BNI Securities Maxi Liestyaputra menilai, strategi ELTY mengakuisisi Sentul dan Jonggol merupakan langkah investasi tepat. Selain harganya murah, dua kawasan itu bakal diminati masyarakat Jakarta lantaran sanitasi dan lingkungannya masih nyaman.

Atas dasar itu, Maxi tetap merekomendasikan beli terhadap saham ELTY. Ia menaksir saham ini bisa mendaki hingga level Rp 320 per saham. Pada penutupan perdagangan Senin (1/11), harga ELTY adalah Rp 158 per saham. "Saham ELTY masih layak untuk dibeli," kata Maxi.

Pemegang saham berubah

Selain mundurnya Ferdinand, dalam sebulan terakhir ini, komposisi pemegang saham Bakrieland juga berubah cepat. Per 30 September 2010, Ascention Limited tercatat memiliki 3,91 miliar saham atau setara 9,80 persen dari total saham Bakrieland. Sebelumnya, saham sebanyak itu dimiliki atas nama PT Danatama Capital.

Menariknya, per 13 Oktober 2010 Ascention telah melepas 1,37 miliar saham. Jadi, saham Bakrieland yang tersisa di Ascention 2,54 miliar saham (6,37 persen). Tapi, pada 22 Oktober lalu, seluruh kepemilikan Ascention hilang. Yang muncul justru nama Danatama Makmur dengan kepemilikan empat miliar saham atau 10,2 persen.

Seorang trader di bursa saham menduga, saham yang menggunakan nama Ascention sejatinya dimiliki oleh Grup Bakrie sendiri. Apalagi Ascention masuk daftar pemegang saham Bakrieland saat rights issue lalu.

Tapi, lagi-lagi Nuzirman membantah spekulasi tersebut. "Ascention itu perusahaan investasi asal luar negeri. Perusahaan itu tidak ada sangkut pautnya dengan Bakrieland Development," bantahnya. (Ade Jun Firdaus/Kun Wahyu Winasis/KONTAN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau