Tips Memilih Hunian di Jabodetabek (1)

Kompas.com - 02/11/2010, 15:56 WIB

oleh Alois Wisnuhardana

KOMPAS.com — Faktor jarak sering menjadi pertimbangan kita saat memilih lokasi hunian yang hendak dibeli. Ternyata, hal itu tak cukup bisa dijadikan patokan untuk menjadi satu-satunya kriteria dalam memilih hunian yang ideal. Mengapa demikian?

Mengukur waktu tempuh berdasarkan jarak di Jakarta ini sama seperti menebak ke arah mana bajaj hendak berbelok. Hanya si sopir bajaj dan Tuhan yang tahu dia hendak belok ke mana. Tingkat kemacetan sudah bukan lagi tidak bisa ditebak. Jakarta sudah pasti macet. Menebak titik-titik mana yang rawan macet juga sudah mustahil. Semua titik nyaris macet. 

Maka dari itu, jika Anda mempertimbangkan memilih atau membeli rumah dari brosur hanya karena Anda tergoda lokasinya hanya 30 menit dari Semanggi, 5 menit dari bundaran hotel anu, 2 menit dari Perempatan Pepsi, 10 menit dari patung selamat tinggal, itu seperti Anda naik angkutan salah trayek. Pasti bakal kesasar.

Di Jakarta, waktu tempuh berbanding lurus dengan akses dan infrastruktur jalan, bukan dengan jarak. Maka dari itu, pilihan terbaik untuk mencari lokasi pertama-tama adalah ketersediaan infrastruktur jalan yang memadai menuju lokasi. Jarak 10 kilometer dengan infrastruktur jalan hanya 2 atau 3 jalur sudah jelas berbeda dibanding jarak 20 kilometer dengan jalan 4 atau 5 jalur.

Jarak juga berkaitan dengan sarana transportasi. Lokasi hunian di Bogor yang berjarak 60 km dari Jakarta atau di Serpong yang berjarak sekitar 25 km dari Jakarta pasti berbeda jika kita tempuh dengan sarana kereta api dibandingkan dengan mobil misalnya.

Nah, karena pilihan transportasi ini sifatnya sangat terbuka dan banyak pilihannya, memilih lokasi hunian sebaiknya juga mempertimbangkan moda transportasi apa yang akan Anda gunakan sehari-hari?

Kita sering kali keliru menetapkan pilihan, semata-mata hanya karena sebuah moda transportasi sudah lazim kita gunakan. Mobil atau motor misalnya. Kita memilih menggunakannya hanya karena kita sudah familiar dan terbiasa, lalu menutup kemungkinan untuk beralih dengan moda transportasi lain hanya lantaran kita tidak pernah menggunakannya atau hanya menggunakannya sesekali dalam setahun.

Kita khawatir bahwa moda itu tidak bersahabat, sarana transportasi itu berbahaya, atau pilihan itu mengerikan. Padahal, kita belum mengenalinya lebih dalam dan menilainya sekadar dari permukaan atau bahkan cuma dari cerita orang dan kabar burung.

Oleh karenanya, jangan lagi pernah mempertimbangkan membeli atau memiliki hunian hanya karena faktor jarak. Pertimbangkan faktor lainnya. Simak apa saja faktor yang lain di seri berikutnya. (iDEA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau