Pemasaran

Honda dan Yamaha Sama-sama Unggul

Kompas.com - 03/11/2010, 04:27 WIB

Dalam tahun 2010 yang tinggal dua bulan lagi, tampaknya Honda masih akan bertengger di urutan pertama dalam daftar penjualan sepeda motor secara nasional.

Sampai dengan bulan September 2010, dari total penjualan sebanyak 5.526.824 unit, Honda meraih 2.573.303 unit. Di belakangnya menempel ketat Yamaha dengan penjualan sebanyak 2.479.681 unit, hanya terpaut 93.622 unit.

Honda unggul di kategori sepeda motor bebek (underbone) dengan penjualan sebanyak 1.367.034 unit, sedangkan Yamaha unggul di kategori sepeda motor laki-laki (motor sport) dengan penjualan sebanyak 178.483 unit dan skuter otomatik (skutik) dengan penjualan sebanyak 1.213.211 unit. Di kategori underbone, Yamaha harus puas di urutan kedua dengan penjualan sebanyak 1.087.987 unit, sedangkan di kategori motor sport dan skutik, Honda yang harus puas di urutan kedua dengan penjualan sebanyak 117.841 unit dan 1.088.428 unit.

PT Astra Honda Motor tentunya tidak tinggal diam. Sebagai perusahaan pembuat sepeda motor yang menjual produk terbanyak di negara ini, PT Astra Honda Motor tentu juga ingin menempati urutan pertama dalam segmen skutik. Honda mencoba menekan Yamaha dengan memperlebar rentang skutiknya, baik dalam produk maupun harga.

Di samping Vario dan beberapa variannya, PT Astra Honda Motor juga memasarkan Beat dan Scoopy yang langsung populer di masyarakat. Scoopy adalah skutik baru Honda yang dibuat mirip Vespa, skuter buatan Piaggio yang tidak diproduksi lagi. Bentuk Scoopy yang klasik itu membuat banyak orang yang tertarik untuk memilikinya. Tidak heran jika orang harus menginden untuk membelinya, terutama untuk warna-warna tertentu.

Namun, untuk mengambil alih urutan pertama di segmen skutik, tentunya tidak mudah. Diperlukan strategi pemasaran yang tepat mengingat Yamaha sudah hadir di segmen itu lebih dulu, pasti Yamaha tidak akan tinggal diam. Apalagi, Yamaha juga memasukkan Xeon, skutik baru berkapasitas mesin 125 cc.

Yang unik adalah Suzuki, yang juga merupakan pemain lama bersama Honda dan Yamaha. Walaupun produk-produknya banyak yang bagus, yang tidak kalah jika disetarakan dengan Honda atau Yamaha, dalam penjualan Suzuki agak tertinggal dibandingkan dengan Honda dan Yamaha. Pada saat Honda dan Yamaha menjual lebih dari 2 juta unit sepeda motor, Suzuki hanya menjual sebanyak 393.303 unit, dengan rincian underbone sebanyak 253.301 unit, motor sport sebanyak 12.203 unit, dan skutik 127.799 unit.

Kawazaki bertengger di urutan keempat dengan penjualan sebanyak 63.411 unit. Namun, walaupun demikian, penjualan motor sport Kawasaki mencapai 48.896 unit, lebih dari empat kali lipat dibandingkan dengan yang dicapai oleh Suzuki dalam periode yang sama. Sukses motor sport Kawasaki itu dimotori oleh Kawasaki Ninja.

Urutan kelima ditempati oleh TVS, perusahaan pembuat sepeda motor asal India, dengan penjualan sebanyak 15.635 unit, masing-masing underbone sebanyak 13.889 unit dan motor sport sebanyak 1.746 unit. Di urutan keenam terdapat Kanzen, perusahaan pembuat sepeda motor dalam negeri, dengan penjualan 1.491 unit, semuanya kategori underbone.

Dua perusahaan pembuat sepeda motor lain, yakni Bajaj asal India dan Piaggio asal Italia, tidak tergabung dalam Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia. Dengan demikian, angka resmi penjualan produknya tidak terdaftar. (JL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau