Iwan Fals Nyanyi Sambil Mengaji

Kompas.com - 03/11/2010, 08:55 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com Penyanyi balada Iwan Fals menyanyi sambil mengaji bersama grup musik religi Sanggar Ki Ageng Ganjur pimpinan Zastrouw Al Ngatawi di hadapan ribuan penggemarnya di lapangan IAIN Sunan Ampel Surabaya, Selasa malam.

Dalam konser bertajuk "Perjalanan Spiritual ke Pesantren" yang dihadiri Rektor IAIN Surabaya, Prof Nur Syam, dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf,  Zastrouw selalu mengomentari lagu yang akan atau sudah dinyanyikan Iwan Fals dengan pandangan agama.

Bahkan, Zastrouw yang memberi aransemen lagu-lagu Iwan Fals yang bertemakan kritik sosial itu pun melantunkan shalawat dan "pengajian" di sela-sela komentarnya.

Di hadapan mahasiswa IAIN Surabaya, santri di Surabaya, dan komunitas OI (komunitas penggemar Iwan Fals yang disebut "Orang Indonesia") Surabaya itu, Iwan Fals melantunkan tujuh lagu, yakni "Sarjana Muda", "Ibu", "Tanam Tanam Siram Tanam", "Jula Juli Yo", "Bung Hatta", "Pesawat Tempur", dan "Guru Oemar Bakrie".

"Kalau sarjana untuk semata-mata mencari kerja, bukan mencari ilmu, ya begitu. Pesantren justru lebih baik karena pesantren itu mencetak sarjana kehidupan," kata budayawan pimpinan Sanggar Ki Ageng Ganjur, Zastrouw, mengomentari lagu pertama Iwan Fals.

Menurut dia, pandangan orang bahwa pesantren adalah sarang teroris merupakan kesalahan besar, karena orang itu tidak pernah mengaji di pesantren, padahal pesantren banyak mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan.

"Teroris yang ada di pesantren itu terong yang diiris-iris," kata salah seorang `santri` almarhum mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu disambut tawa hadirin.

Tidak hanya itu, ketika Iwan Fals melantunkan lagu tentang "Ibu", Zastrouw menyitir sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebut nama ibu sebanyak tiga kali dan ayah hanya sekali sebagai orang yang layak dihormati.

"Enak, ya ngaji dengan lagu-lagu seperti ini, karena itu kita doakan ibu-ibu kita. Mari kita bacakan Fatihah untuk ibu kita yang sudah almarhumah," ujar pimpinan sanggar musik religi asal Yogyakarta yang pernah tampil di Dubai dan Maroko itu.

Bahkan, ketika Iwan Fals menyanyikan lagu "Tanam Tanam Siram Tanam" pun, Zastrouw memberikan "pengajian" tentang dua kepentingan menanam pohon, yakni pohon akan bertasbih untuk orang yang menanam dan oksigen yang dihirup orang lain dari pohon itu akan menjadi pahala.

Seperti tidak mau kalah, Iwan Fals pun menyebut penggemarnya sebagai pahlawan apabila mau mengambil plastik yang berserakan agar pertumbuhan tanaman tidak terhambat "sampah" itu, kemudian suami dari Rosanna (Mbak Yos) itu pun menyanyikan lagu "Bung Hatta".

Malam itu, seniman yang sempat dilarang tampil oleh Orde Baru itu juga tidak lupa melontarkan kritik, seperti di sela-sela melantunkan lagu tentang "Jula Juli Yo".

"Nasi wis dadi bubur, dudu sego. Dadi pejabat sing jujur, nek nggak jujur mlebu neroko, (Nasi sudah menjadi bubur, bukan nasi lagi. Jadi pejabat itu yang jujur, kalau tidak jujur bisa masuk neraka)," ucapnya yang disambut applaus hadirin.

Di Jawa Timur, Iwan Fals dengan dukungan perusahaan rokok Djarum itu mengunjungi 12 pesantren, mulai dari Jember, Lumajang, hingga akhirnya di Surabaya.

"Dari beberapa kiai yang saya datangi, saya senang masukan mereka bahwa seni itu bisa mengajak kepada kebaikan, seperti syiar agama yang pernah dilakukan Wali Songo, asalkan di dalamnya ada nilai-nilai dakwah," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau