Transportasi

Pemkot Bandung Lirik Monorel

Kompas.com - 03/11/2010, 11:32 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Pemerintah Kota Bandung tertarik mengembangkan kereta rel tunggal atau monorel seperti di Kuala Lumpur, Malaysia. Studi kelayakan pengembangan moda transportasi itu akan dilakukan awal tahun depan.

"Kota modern harus mendorong konsep transportasi yang menitikberatkan pada penggunaan moda angkutan massal. Monorel adalah salah satunya. Studi kelayakan akan segera dilakukan, apakah bisa menerapkan itu di Kota Bandung," kata Wali Kota Bandung Dada Rosada, Selasa (2/11) di Balaikota Bandung.

Lebih lanjut Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung Prijo Soebiandono menjelaskan, sudah ada calon investor yang mengajukan proposal pembangunan monorel itu. Investor tersebut diminta melakukan studi kelayakan selambat-lambatnya Maret 2011.

"Rencananya trayek monorel itu akan menghubungkan Terminal Dago sampai kawasan alun-alun. Ada dua alternatif lokasi yang dilewati, yaitu rel dibangun di atas jalan raya atau di sisi Sungai Cikapundung," ujar Prijo.

Dibiayai investor

Jika proposal itu disetujui, investor akan membiayai semua pembangunan jalur kereta, dari pembangunan tiang penyangga hingga pengadaan gerbong kereta. Pemkot berperan mengeluarkan perizinan dan menyediakan lahan untuk tiang penyangga dan stasiun pemberhentian.

Prijo menuturkan, berdasarkan kunjungannya ke Kuala Lumpur akhir pekan lalu, dua gerbong monorel bisa mengangkut 300 penumpang sekaligus. Gerbong dengan kapasitas itulah yang rencananya dipakai di Kota Bandung. Lahan untuk membuat satu tiang penyangga diperkirakan 1 meter persegi.

Kondisi jalan di Kota Bandung saat ini sudah cukup sesak oleh kendaraan, baik kendaraan pribadi maupun angkutan kota yang sering menimbulkan kemacetan. Pemakaian jalan sebagai fondasi tiang penyangga dikhawatirkan menambah kemacetan.

"Penggunaan kendaraan pribadi memang harus dibatasi. Tugas pemerintah adalah mendorong orang beralih memakai angkutan umum massal dengan adanya monorel nanti," ujar Prijo.

Jumlah angkutan kota yang mencapai 5.521 unit, secara perlahan, akan dikurangi. "Angkot yang ada dan bus akan difungsikan sebagai kendaraan pengumpan (feeder). Mereka akan beroperasi mengantarkan warga dari permukiman menuju stasiun monorel," kata Prijo. (HEI)

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau