Anak-anak pengungsi

Permainan Balok Jadi Hiburan

Kompas.com - 03/11/2010, 11:50 WIB

Letusan Gunung Merapi membuat ribuan warga mengungsi ke tempat aman, termasuk anak-anak. Saat berada di lokasi pengungsian, permainan balok menjadi salah satu aktivitas anak-anak pengungsi untuk mengobati rasa rindu terhadap rumah yang ditinggalkan.

Aktivitas bermain anak-anak pengungsi tersebut seperti yang terlihat di lokasi pengungsian di Lapangan Bawukan, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Selasa (2/11).

Saking asyiknya bermain, Yulian, anak berusia 15 bulan, sejenak lupa kalau tengah berada di pengungsian. Anak itu asyik bermain balok-balok beraneka bentuk supaya mudah disusun. Mainan balok dari bahan kayu itu merupakan sumbangan dermawan yang peduli terhadap korban bencana Gunung Merapi.

Bersama Yulian, juga ada gadis kecil Surianingsih yang berusia lebih dari empat tahun, juga asyik membangun ben- teng berikut istana dari balok-balok kayu. Surianingsih juga tidak memedulikan orang sekitarnya saat asyik menyusun balok itu.

Anak-anak itu bermain balok di area parkir sepeda motor di SD Bawukan I yang kini menjadi lokasi pengungsian warga Balerante.

Ny Ngatemi, ibu Surianingsih, mengatakan, mainan balok-balok kayu itu paling diminati anak-anak di pengungsian Bawukan ini. Selama di pengungsian setidaknya terdapat 6-8 anak yang bermain setiap hari. Kadang anak dewasa juga ikut nimbrung main setelah bosan main sepak bola di lapangan yang dekat dengan tenda pengungsian.

”Kalau hujan, anak-anak dapat mainan baru, yakni main air yang menggenang di lapangan. Air hujan menggenang karena saluran air belum ditata, malah jadi rebutan anak-anak bermain air,” ujar Suharno, warga yang mengungsi.

Sartinah, ibu Yulian, mengatakan, tidak banyak pilihan mainan bagi anak-anak yang tinggal di pengungsian. Fasilitas di pengungsian yang serbaterbatas dan serbaasing itu juga membuat anak-anak lebih banyak dekat dengan orangtuanya. Apalagi selama di pengungsian kaum perempuan juga tidak ada ada kegiatan.

Jika di rumah sendiri, anak-anak bisa menonton televisi atau main bersama teman sebayanya. Di pengungsian, teman bermain mereka terpencar, bergantung lokasi pengungsian. Ada yang menempati ruang lokal kelas, ada juga yang menempati tenda.

Di samping arena main yang terbatas, ibu-ibu yang memiliki balita di pengungsian juga menuturkan bahwa anak-anak mereka kini sulit tidur. Bukan karena takut akan Merapi, tetapi karena sudah seminggu lebih tidur di atas tikar. Padahal, tikar yang digelar di lantai sekolah terlalu keras untuk menopang punggung anak-anak.

Bahkan, anak-anak yang kebetulan ikut orangtuanya tidur di tenda pengungsian harus pindah lokasi ke emperan gedung sekolah setiap kali hujan turun pada malam hari.

Hujan deras yang mengguyur lokasi pengungsian membuat tanah di dalam tenda pengungsi basah sehingga membuat anak-anak tak nyaman tidur.

Kepala Dusun I Balerante, Djaenuh, menuturkan, berharap ada dermawan bisa membantu kasur ala kadarnya untuk tempat tidur anak-anak. ”Tidak perlu baru, yang penting anak-anak bisa tidur,” ujarnya.

Selain itu, bantuan mainan untuk anak juga dibutuhkan untuk mengusir kesepian.

(Winarto Herusansono)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau