Aktivitas bermain anak-anak pengungsi tersebut seperti yang terlihat di lokasi pengungsian di Lapangan Bawukan, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Selasa (2/11).
Saking asyiknya bermain, Yulian, anak berusia 15 bulan, sejenak lupa kalau tengah berada di pengungsian. Anak itu asyik bermain balok-balok beraneka bentuk supaya mudah disusun. Mainan balok dari bahan kayu itu merupakan sumbangan dermawan yang peduli terhadap korban bencana Gunung Merapi.
Bersama Yulian, juga ada
Anak-anak itu bermain balok di area parkir sepeda motor di SD Bawukan I yang kini menjadi lokasi pengungsian warga Balerante.
Ny Ngatemi, ibu Surianingsih, mengatakan, mainan balok-balok kayu itu paling diminati anak-anak di pengungsian Bawukan ini. Selama di pengungsian setidaknya terdapat 6-8 anak yang bermain setiap hari. Kadang anak dewasa juga ikut nimbrung main setelah bosan main sepak bola di lapangan yang dekat dengan tenda pengungsian.
”Kalau hujan, anak-anak dapat mainan baru, yakni main air yang menggenang di lapangan. Air hujan menggenang karena saluran air belum ditata, malah jadi rebutan anak-anak bermain air,” ujar Suharno, warga yang mengungsi.
Sartinah, ibu Yulian, mengatakan, tidak banyak pilihan mainan bagi anak-anak yang tinggal di pengungsian. Fasilitas di pengungsian yang serbaterbatas dan serbaasing itu juga membuat anak-anak lebih banyak dekat dengan orangtuanya. Apalagi selama di pengungsian kaum perempuan juga tidak ada ada kegiatan.
Jika di rumah sendiri, anak-anak bisa menonton televisi atau main bersama teman sebayanya. Di pengungsian, teman bermain mereka terpencar, bergantung lokasi pengungsian. Ada yang menempati ruang lokal kelas, ada juga yang menempati tenda.
Di samping arena main yang terbatas, ibu-ibu yang memiliki balita di pengungsian juga menuturkan bahwa anak-anak mereka kini sulit tidur. Bukan karena takut akan Merapi, tetapi karena sudah seminggu lebih tidur di atas tikar. Padahal, tikar yang digelar di lantai sekolah terlalu keras untuk menopang punggung anak-anak.
Bahkan, anak-anak yang kebetulan ikut orangtuanya tidur di tenda pengungsian harus pindah lokasi ke emperan gedung sekolah setiap kali hujan turun pada malam hari.
Hujan deras yang mengguyur lokasi pengungsian membuat tanah di dalam tenda pengungsi basah sehingga membuat anak-anak tak nyaman tidur.
Kepala Dusun I Balerante, Djaenuh, menuturkan, berharap ada dermawan bisa membantu kasur ala kadarnya untuk tempat tidur anak-anak. ”Tidak perlu baru, yang penting anak-anak bisa tidur,” ujarnya.
Selain itu, bantuan mainan untuk anak juga dibutuhkan untuk mengusir kesepian.