Kunjungan kerja

PAN: Dua Anggota Batal ke Jepang-Korsel

Kompas.com - 03/11/2010, 17:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Teguh Juwarno, memastikan bahwa dua anggota fraksinya yang menjadi anggota Pansus RUU Otoritas Jasa Keuangan (OJK), membatalkan ikut dalam kunjungan kerja ke Jepang dan Korea Selatan. PAN merupakan salah satu partai yang melarang anggota DPR asal fraksinya turut dalam kunjungan kerja ke luar negeri.

Teguh mengatakan, dua anggota Komisi XI yang batal ikut itu adalah Ismet Ahmad dan Nasrullah. Selain Ismet dan Ahmad, satu anggota lainnya, Mumtaz Rais juga membatalkan keberangkatan ke luar negeri. Akibat pembatalan ini, keduanya terancam dikenai denda sekitar 3.500-4.000 dollar AS.

"Karena alasan tiketnya sudah di-issued, tiket sudah di-booking terancam denda 3.500 dollar untuk Pak Ismet dan Nasrullah. Mumtaz itu sampai 4.000 dollar, karena beda negara," kata Teguh, seusai mengisi diskusi di Gedung DPD, Jakarta, Rabu (3/11/2010).

Saat ini, fraksi PAN tengah mengupayakan agar denda tersebut tak dikenakan kepada anggotanya. Alasannya, kata Teguh, pembatalan itu justru menghemat uang negara dalam jumlah yang lebih besar. "Kalau tetap harus dibayar, ya semuanya akan ditanggung fraksi," ujarnya.

Namun larangan kunjungan kerja ke luar negeri ini tidak berlaku untuk rombongan yang akan melakukan pengawasan ibadah haji ke Arab Saudi. Menurut rencana tim Komisi VIII akan bertolak ke Mekkah pada 4 November besok.

Pengawasan haji dinilai penting mengingat besarnya jumlah masyarakat yang menunaikan ibadah pada tahun ini. Di luar itu, seluruh anggota Fraksi PAN yang melanggar perintah partai akan mendapatkan surat peringatan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau