Merapi meletus lagi

Boyolali Kembali Dilanda Hujan Abu Pekat

Kompas.com - 03/11/2010, 18:54 WIB

BOYOLALI, KOMPA.com - Hujan abu vulkanik kembali melanda hampir merata di wilayah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menyusul Gunung Merapi yang menyemburkan awan panas susulan, Rabu (3/11/2010).

Gunung Merapi yang kembali menyemburkan awan panas tersebut menyebabkan terjadinya hujan abu pekat di wilayah Kecamatan Selo, Musuk, Cepogo, Ampel dan Boyolali Kota.

Akibat pekatnya hujan abu vulkanik tersebut, mengganggu penglihatan warga sekitar, karena jarak pandang hanya dapat terlihat sekitar tiga meter.

Selain itu, akibat semburan awan panas Merapi juga dirasakan bau belerang yang menyengat di wilayah Kecamatan Musuk dan Cepogo.

Setiyono, tokoh masyarakat yang juga relawan di Musuk, mengatakan, warga di Kecamatan Musuk terutuma di Dukuh, Sangup, Mriyan, Cluntang dan Lanjaran, dikosongkan, karena hujan abu pekat dan bau belerang.

Namun, dalan evakuasi warga ada kendala, karena truk yang untuk mengangkut pengungsi berhenti di jalan, akibat kondisi gelap karena hujan abu yang cukup tebal.

Menurut dia, warga diupayakan untuk diungsikan ke Desa Sumur dan Jemowo di Musuk atau tempat yang lebih aman.

"Desa Jemowo, kondisi gelap gulita sehingga evakuasi tidak dapat dilakukan," kata Setiyono.

Sementara abu vulkanik di Kota Boyolali, juga dirasakan oleh warga sekitar, karena abu asal Gunung Merapi itu ketebalan mencapai sekitar dua centimeter sehingga menggangu para pengguna jalan.

Sejumlah pengendara sepeda motor di Jalan Pandanaran Boyolali, terlihat mengenakan masker dan mereka berjalan pelan-pelan akibat kondisi gelap.

Dwi Adi Nugroho, warga Ampel Boyolali, menjelaskan, abu vulkanik mencapai sekitar dua centimeter, sehingga mengganggu pengguna jalan.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Boyolali, Sumantri mengatakan, evakuasi sedang berlangsung akibat hujan abu pekat di wilayah Boyolali.

Menurut Sumantri, pengungsian warga dilakukan hingga radius 20 kilometer dari puncak Merapi akibat hujan abu pekat dan bau belerang.

Komandan Kodim 0724 Boyolali yang juga koordinator lapangan penanganan bencana Merapi, Letkol ARH Soekoso Wahyudi, membenarkan kejadian tersebut.

Pihaknya mendapat laporan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, terkait hak tersebut.

Namun, kata Dandim, kondisi wilayah Selo masin aman, pengungsi masih berada di pos pengungsian, Desa Samiran hingga saat ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau