Laporan Wartawan Tribun Jogja, Mario Eka Danardono
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Naiknya debit air Kali Code akibat dampak banjir lahar dingin di Kali Boyong, Rabu (3/11/2010) malam, membuat kaum tua yang bermukim di wilayah Ledok Tukangan dan Jagalan mengingat luka lama mereka. Banjir lahar dahsyat pernah memporak-porandakan kampung-kampung padat penduduk di sepanjang tepi Kali Code pada tahun 1984. Sebagian warga di Ledok Tukangan dan Jagalan kini menyiapkan posko darurat memantau keadaan.
"Kita ansipasi kejadian 1984. Trauma ini terutama dirasakan warga lanjut usia yang mengalami kejadian itu," kata Wahyu, warga Ledok Tukangan, kepada Tribun Jogja, Rabu malam.
Posko darurat yang disiapkan untuk mengantisipasi keadaan darurat jika dampak banjir lahar dari di sungai yang berhulu di lereng Merapi itu benar-benar terjadi. "Kita siapkan jalur evakuasi, dan titik-titik aman bagi warga di bantaran," imbuh Wahyu.
Persiapan dan koordinasi tindakan antisipasi dipimpin Ketua RW 63 Ledok Tukangan Haryono. Sampai berita ini ditulis, sejumlah warga melakukan ronda, dan terus memantau kondisi debut air di Kali Code.
Kali Code, terutama di wilayah antara Jembatan Gondolayu hingga Jembatan Jambu memiliki kerawanan tingkat tinggi. Permukiman padat berada di bantaran sungai, dan hanya berdiri sekitar dua meter dari dasar sungai. Batasnya hanya tanggul penahan yang langsung bersisian dengan aliran sungai.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang