Konser amal

Dari Gitaris untuk Indonesia

Kompas.com - 04/11/2010, 08:49 WIB

Oleh Frans Sartono

"I look at you all see the love there that's sleeping While my guitar gently weeps...."

Itu lagu ”While My Guitar Gently Weeps” dari Beatles gubahan George Harrison yang ia nyanyikan sendiri. Pada lagu tersebut, gitaris George mengajak sahabatnya, Eric Clapton, menorehkan permainan khasnya. 

Begitulah gitaris menggunakan gitar sebagai kepanjangan suara hati. Interaksi personal mereka atas kehidupan tersalur lewat gitar. Dan, itu memang sudah jadi bawaan jiwa seniman musik, termasuk gitaris di Indonesia. 

Ketika bencana susul-menyusul menimpa Indonesia, sejumlah gitaris menggagas untuk menggelar konser amal. Mereka adalah Piyu, Baron, Dewa Budjana, dan kawan-kawan. Bekerja sama dengan harian Kompas dan Bentara Budaya Jakarta (BBJ), para gitaris itu sepakat menggelar konser amal bertajuk ”Dari Gitaris untuk Indonesia” di BBJ, Jalan Palmerah Selatan, Jumat (5/11/2010) malam. 

Lewat konser ini, sejumlah seniman gitar ingin membangkitkan cinta dengan mengajak siapa saja datang untuk berempati dan menggalang dana bagi rakyat yang menjadi korban bencana. Mereka yang akan tampil, Abdee Negara, Adrian Adioetomo, Andra, Baron, Dewa Budjana, Piyu, Tohpati, John Paul Ivan, Iwan Hasan, Ian Antono, Ireng Maulana, Edo Widiz, Yali Item, Kin, Tarras, Imam, Irfan, dan Sony. Akan tampil pula penyanyi Armand Maulana. 

Dana yang terkumpul akan disalurkan melalui Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) kepada rakyat yang membutuhkan. Sejak dompet DKK dibuka pada 27 Oktober 2010, sampai dengan Rabu sore telah terkumpul hampir Rp 5 miliar. Diharapkan, dengan acara ini jumlah bantuan bagi para korban akan terkumpul lebih banyak lagi. 

Pergelaran dikonsep sebagai penampilan instrumental. ”Kami sebagai instrumentalis akan memainkan lagu-lagu yang pernah hit,” kata Piyu, gitaris dari band Padi, yang merupakan salah seorang penggagas acara.

Piyu, misalnya, akan memainkan lagu ”Sesuatu yang Indah” yang pernah dipopulerkan Padi. Baron, gitaris Baron Band yang pernah memperkuat GIGI, akan memainkan ”Ku Tak Bisa”, lagu kondang milik Slank. Pada lagu tersebut Baron akan tampil bertiga bersama gitaris Adrian Adioetomo dan gitaris Slank, Abdee Negara, yang piawai menggunakan slide guitar, peranti berupa logam pada jari manis untuk memencet dawai. 

”Kami membawakan lagu Slank secara instrumental dengan karakter gitaris yang berbeda-beda, yaitu rock, blues, dan slide guitar,” kata Baron. 

Pergelaran akan terbagi dalam tiga bagian yang mengacu pada tempo, yaitu medium, lamban, dan satu sesi khusus akustik. Gitaris Iwan Hasan yang dikenal sebagai salah seorang pentolan band Discus akan memainkan gitar-harpa dengan 21 dawai. Pada acara tersebut juga akan diadakan lelang gitar milik Piyu, Budjana, dan Setiawan Djodi, pengusaha yang pernah ngeband. Djodi yang pernah bermain dalam band Ternchem di Solo itu melelang gitarnya, Fender Stratocaster model EJ. 

Solidaritas  Para gitaris yang memprakarsai pergelaran ini membentuk kelompok obrolan lewat ”BlackBerry Group”. Sesuai karakter peranti komunikasi tersebut, anggota memang terbatas 30 orang. Lewat kelompok obrolan tersebut, gitaris berbagi info seputar hal-hal teknis dalam bermain gitar, termasuk teknologi tata suara sampai urusan pedal dan kabel. Dari sekadar obrolan tersebut, mereka berkembang menjadi kelompok solidaritas. 

”Kami pernah bareng-bareng menjenguk Om Victor Rompas yang waktu itu sakit. Kami beri support dan bersama-sama mendoakan teman yang sedang ada masalah,” kata Baron, salah seorang perintis grup obrolan tersebut, tentang gitaris jazz senior Victor Rompas.

”Kami memang biasa saweran kalau ada temen gitaris yang sakit,” kata Budjana. 

Kini, mereka melebarkan empati ke nasib rakyat yang terkena bencana. Ketika rencana konser amal itu merebak ke publik, puluhan gitaris menyatakan diri untuk bergabung, termasuk gitaris dari Papua. 

Begitu rukun dan guyub para gitaris itu memikirkan nasib rakyat yang menderita. Mereka percaya, cinta tak tidur. Oleh karena itu, mereka mengajak rakyat di negeri ini untuk datang dan berbagi kasih lewat alunan gitar di BBJ.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau