Ipo krkatau steel

Oknum Pemerintah dan Politik Terlibat

Kompas.com - 04/11/2010, 14:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Wakil Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional Drajad Wibowo mengatakan, ada oknum pemerintahan dan elite politik yang terlibat dalam skandal initial public offering (IPO) atau penjualan saham perdana Krakatau Steel.

Proses IPO Krakatau Steel dipertanyakan karena harga jualnya dinilai terlalu rendah. Siapa oknum pemerintah dan elite politik yang terlibat? Drajad enggan menyebutkannya.

Hanya, ia memastikan bahwa mereka yang terlibat tidak sampai ke Cikeas alias lingkaran dalam Istana. Berikut wawancara Drajad dengan para wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (4/11/2010), terkait keterlibatan oknum yang dia sebut:

Wartawan (W): Siapa yang terlibat di balik kasus ini?

Drajad (D):  Kalau data yang ada di saya, tidak ada indikasi sampai ke Cikeas.

W: Katanya lebih dahsyat dari Century?

D: Mungkin dari sisi praktiknya karena ini praktiknya pemain pasar modal lama yang sudah lolos dua kali dalam penjualan BTN dan pembangunan perumahan. Dalam penjualan BTN dan pembangunan perumahan kan sekitar Rp 50 di atas selang bawah. Zaman Sofyan Djalil (Menteri BUMN KIB 1), dia keras terhadap underwriter dan investor. Dia selalu pakai selang atas, 50 di atas selang atas. Zaman Pak Mus (Menteri BUMN Mustafa Abubakar) ada beberapa pemain lama yang bergerak lagi. Nah, modusnya lebih canggih dari Century. Kalau modus Century kan walau agak rumit di perbankan, tidak secanggih modus di pasar modal.

W: Apakah melibatkan pemerintahan?

D: Ya, ada oknum-oknum pemerintahan dan pemain pasar.

W: Levelnya eselon I, II, atau menteri?

D: Oknum-oknum pemerintahan.

W: Di bawah menteri?

D: Oknum pemerintahan sajalah.

W: Kalau Century kan melibatkan menteri, apakah ini juga?

D: Untuk sementara ini, saya hanya mengatakan melibatkan oknum pemerintahan dan juga ada beberapa orang pengusaha yang terlibat.

W: Kalau elite, bagaimana praktiknya?

D: Yang saya peroleh, mereka bermain sendiri-sendiri, mungkin jatah-jatah sendiri, bukan sistematis terorganisasi antarmereka. Kalau terorganisasi, bisa terlihat di pemesanannya.

W: Kalau ada di politik, partai besar, kecil, atau terbesar?

D: Ada juga yang tidak di parpol, tapi menjadi elite ada juga. Saya tidak mau spesifik.

W: Seberapa besar elite politik itu?

D: Kalau dilihat dari koneksinya, jaringannya melalui koneksi-koneksi. Kalau saya ngomong, malah jadi bubar nanti.

W: Mereka beli langsung?

D: Tidak beli langsung. Misal kita tahu kalau si A jalan, di belakangnya pasti ada B.

Dalam kesempatan itu, Drajad membantah bahwa meledaknya kasus IPO Krakatau Steel karena ada konflik kepentingan, seperti disampaikan Ketua Majelis Pertimbangan Partai DPP PAN Amien Rais.

Ia membantah adanya perebutan "jatah" saham antara PAN dan Golkar. "PAN tidak cukup kaya untuk membeli saham besar-besaran," kata Drajad.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau