Subiono (70) berjalan tertatih-tatih melayani pembeli di warung makan di rumahnya. Ia baru saja sembuh dari penyakit chikungunya atau flu tulang beberapa hari sebelumnya. Nyeri dan ngilu pada persendian masih ia rasakan, terutama ketika hendak berdiri.
Ia mengaku sempat tidak bisa berjalan sama sekali selama sekitar lima hari. Keseimbangannya hilang dan badan terasa lemas. Ditambah lagi, ia merasakan sakit kepala yang hebat.
Hampir semua anggota keluarga Subiono, yang tinggal di Jalan Sekelimus VII Nomor 3, RT 02 RW 06, Kelurahan Batununggal, Kecamatan Bandung Kidul, ini, terkena virus chikungunya. Berawal dari putri sulungnya, Tintin (37), virus itu menghinggapi Subiono dan istrinya, Dedeh (60), dan juga kedua cucunya. Bahkan, dua pembantu di warung makannya juga kena.
"Di rumah memang ada nyamuk, tapi tidak terlalu banyak," ujarnya. Penyakit itu juga menjangkiti tetangga Subiono, Lilis Quraishin (48). Ketika ditemui akhir pekan lalu, Lilis terlihat sudah bisa kembali beraktivitas, yaitu menerima pesanan jahitan pakaian.
Penyakit itu memang ditularkan melalui gigitan nyamuk, terutama nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk-nyamuk ini berkembang biak di air, baik air bersih maupun air kotor. Karakteristik lingkungan yang rentan chikungunya, menurut petugas Puskesmas Kujangsari, adalah lingkungan yang kotor dan terlebih lagi padat penduduk.
Kondisi lebih parah terjadi di Kelurahan Kujangsari, Kecamatan Bandung Kidul. Dinas Kesehatan Kota Bandung menyatakan ada sekitar 57 orang yang terkena penyakit tersebut dalam dua bulan terakhir. Petugas Puskesmas Kujangsari bahkan menjelaskan, hampir semua RT di RW 06 kelurahan itu ada yang menderita chikungunya.
Bergantian
Ketua RT 04 di RW 06 Dudi Rusdiana bahkan pernah menderita chikungunya. "Penderitanya di sini berganti-gantian. Saya sendiri kena lima bulan lalu. Kalau belakangan ini, ada empat orang warga saya yang kena," ujarnya.
Setelah kejadian itu, pengasapan (fogging) dilakukan di RW 06. Tujuannya untuk memberantas nyamuk. Namun, selain membasmi nyamuk, Dudi menyadari, lingkungannya juga harus bersih supaya nyamuk tidak berkembang lagi. Ia bersama enam ketua RT lainnya dan ketua RW lalu mengajukan bantuan kepada kelurahan.
Hasilnya, dalam sepuluh hari terakhir mereka bergotong royong membersihkan saluran air supaya tidak tergenang. Selain dibersihkan, warga juga memperbaiki saluran dengan melapisi ulang semennya. Material itu merupakan bantuan dari kelurahan.
Namun, ia meminta PD Kebersihan Kota Bandung untuk lebih tertib dalam mengangkut sampah rumah tangga. Selama ini sampah kadang-kadang tidak diambil petugas hingga lima hari karena tempat penampungan sementara di tepi Jalan Buahbatu penuh.
Kepala Puskesmas Kujangsari Sri Erna menyatakan, persediaan obat di puskesmasnya mencukupi. Kader kesehatan di setiap RW pun telah diberi pelatihan untuk memantau jentik nyamuk di lingkungannya. Kader inilah yang bertugas melaporkan ke puskesmas manakala ada warga yang terkena demam berdarah atau chikungunya.
"Kami mengimbau warga untuk membersihkan sendiri lingkungan rumahnya. Selain itu, kerja bakti juga harus ditingkatkan," ujar Erna. Mencegah memang lebih baik daripada mengobati. (HERLAMBANG JALUARDI)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang