Kesehatan masyarakat

Warga Menyatakan Perang terhadap Nyamuk

Kompas.com - 05/11/2010, 10:46 WIB

Subiono (70) berjalan tertatih-tatih melayani pembeli di warung makan di rumahnya. Ia baru saja sembuh dari penyakit chikungunya atau flu tulang beberapa hari sebelumnya. Nyeri dan ngilu pada persendian masih ia rasakan, terutama ketika hendak berdiri.

Ia mengaku sempat tidak bisa berjalan sama sekali selama sekitar lima hari. Keseimbangannya hilang dan badan terasa lemas. Ditambah lagi, ia merasakan sakit kepala yang hebat.

Hampir semua anggota keluarga Subiono, yang tinggal di Jalan Sekelimus VII Nomor 3, RT 02 RW 06, Kelurahan Batununggal, Kecamatan Bandung Kidul, ini, terkena virus chikungunya. Berawal dari putri sulungnya, Tintin (37), virus itu menghinggapi Subiono dan istrinya, Dedeh (60), dan juga kedua cucunya. Bahkan, dua pembantu di warung makannya juga kena.

"Di rumah memang ada nyamuk, tapi tidak terlalu banyak," ujarnya. Penyakit itu juga menjangkiti tetangga Subiono, Lilis Quraishin (48). Ketika ditemui akhir pekan lalu, Lilis terlihat sudah bisa kembali beraktivitas, yaitu menerima pesanan jahitan pakaian.

Penyakit itu memang ditularkan melalui gigitan nyamuk, terutama nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk-nyamuk ini berkembang biak di air, baik air bersih maupun air kotor. Karakteristik lingkungan yang rentan chikungunya, menurut petugas Puskesmas Kujangsari, adalah lingkungan yang kotor dan terlebih lagi padat penduduk.

Kondisi lebih parah terjadi di Kelurahan Kujangsari, Kecamatan Bandung Kidul. Dinas Kesehatan Kota Bandung menyatakan ada sekitar 57 orang yang terkena penyakit tersebut dalam dua bulan terakhir. Petugas Puskesmas Kujangsari bahkan menjelaskan, hampir semua RT di RW 06 kelurahan itu ada yang menderita chikungunya.

Bergantian

Ketua RT 04 di RW 06 Dudi Rusdiana bahkan pernah menderita chikungunya. "Penderitanya di sini berganti-gantian. Saya sendiri kena lima bulan lalu. Kalau belakangan ini, ada empat orang warga saya yang kena," ujarnya.

Setelah kejadian itu, pengasapan (fogging) dilakukan di RW 06. Tujuannya untuk memberantas nyamuk. Namun, selain membasmi nyamuk, Dudi menyadari, lingkungannya juga harus bersih supaya nyamuk tidak berkembang lagi. Ia bersama enam ketua RT lainnya dan ketua RW lalu mengajukan bantuan kepada kelurahan.

Hasilnya, dalam sepuluh hari terakhir mereka bergotong royong membersihkan saluran air supaya tidak tergenang. Selain dibersihkan, warga juga memperbaiki saluran dengan melapisi ulang semennya. Material itu merupakan bantuan dari kelurahan.

Namun, ia meminta PD Kebersihan Kota Bandung untuk lebih tertib dalam mengangkut sampah rumah tangga. Selama ini sampah kadang-kadang tidak diambil petugas hingga lima hari karena tempat penampungan sementara di tepi Jalan Buahbatu penuh.

Kepala Puskesmas Kujangsari Sri Erna menyatakan, persediaan obat di puskesmasnya mencukupi. Kader kesehatan di setiap RW pun telah diberi pelatihan untuk memantau jentik nyamuk di lingkungannya. Kader inilah yang bertugas melaporkan ke puskesmas manakala ada warga yang terkena demam berdarah atau chikungunya.

"Kami mengimbau warga untuk membersihkan sendiri lingkungan rumahnya. Selain itu, kerja bakti juga harus ditingkatkan," ujar Erna. Mencegah memang lebih baik daripada mengobati. (HERLAMBANG JALUARDI)

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau