BLITAR, KOMPAS.com - Sedikitnya 20 peserta bersih desa yang digelar perangkat Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, Jawa Timur, berteriak-teriak mirip orang kesurupan saat tiba di lokasi makam Adipati Aryo, sesepuh kecamatan tersebut.
Bambang, salah seorang panitia, usai bersih desa, Jumat (5/11/2010) mengemukakan, kejadian ini sering menimpa peserta saat kegiatan seperti ini. Mereka seperti tidak sadar dan berteriak-teriak.
"Mereka terlalu menghayati dan bersemangat mengikuti kegiatan ini, sehingga sudah tidak peduli dengan kondisi tubuh dan jiwanya," katanya.
Kondisi para peserta itu memang tampak kacau. Mereka berteriak, menangis, bahkan ada yang mengamuk.
Kondisi mereka lebih kacau lagi, setelah tiba di makam Aryo. Mereka baru sadar, setelah ada sesepuh desa yang membantu dengan doa-doa.
Sayangnya, tidak semua peserta yang sudah dibantu dengan doa-doa kembali sadar.
Ada salah seorang peserta yang kebanyakan pria tersebut justru tambah berontak dan mengamuk, melawan panitia yang memegangnya.
Selain itu, masih ada juga peserta yang menggigit kain mori yang berada di atas makam.
Walaupun sebagian peserta mengalami kesurupan massal, warga justru enggan untuk bergerak dari lokasi itu, menghindari kemungkinan juga ikut kesurupan. Mereka seolah menikmati adegan itu.
Sunarto, salah seorang warga mengaku lebih memilih untuk bertahan.
Ia memang sudah mempersiapkan diri ikut dalam acara itu, berharap mendapat berkah dengan ikut berdoa bersama.
Ia hanya berharap tidak ikut kesurupan dengan selalu menenangkan jiwa dan pikiran.
Kepala Kelurahan Blitar Widodo mengungkapkan, kegiatan ini adalah agenda setiap tahun yang dilakukan oleh warga setempat.
Kegiatan ini sebagai bentuk mengucapkan syukur atas segala nikmat yang diberikan.
Sebagai wujudnya, selain menyelenggarakan tarian jaranan, juga membawa berbagai macam tumpeng. Isi dari tumpeng itu adalah hasil bumi yang nantinya akan diperebutkan warga.
Pihaknya berharap, kegiatan ini mampu menjadikan berkah tersendiri untuk warga terutama di Kelurahan Blitar yang didominasi petani ini.
Acara ini sempat memacetkan arus lalu lintas di daerah ini. Polisi juga turun tangan, membantu memperlancar pengamanan, agar tidak terjadi macet.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang