PT KAI Optimalkan Kereta ke Yogyakarta

Kompas.com - 06/11/2010, 04:10 WIB

BANDUNG, KOMPAS - PT Kereta Api Indonesia mengoptimalkan kapasitas angkutnya sebagai langkah antisipasi membeludaknya penumpang dari dan menuju Yogyakarta menyusul penutupan Bandar Udara Adisutjipto dan Adisumarmo. Tidak tertutup kemungkinan armada dari sejumlah daerah ditambah untuk menampung mobilitas masyarakat dan distribusi bantuan kemanusiaan.

”Jika diperlukan, kami siap mengalihkan kereta-kereta yang tidak terpakai untuk menambah kapasitas angkut dari dan menuju Yogyakarta (DI Yogyakarta) dan Solo (Jawa Tengah),” kata Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Sugeng Prijono, Jumat (5/11) di Bandung, Jawa Barat.

Sejak ditutupnya Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, dan Adisumarmo, Solo, sebagai dampak dari erupsi Gunung Merapi, PT KAI memaksimalkan daya angkut setiap kereta, dari kondisi biasa hanya 80 persen menjadi 100 persen.

Sugeng mencontohkan, jika pada hari biasa KA dari Yogyakarta hanya menarik 10 rangkaian kereta, kini ditambah menjadi 12 rangkaian kereta. ”Penambahan 50-100 tempat duduk per rangkaian,” ujarnya, seraya menjelaskan, penambahan rangkaian kereta itu biasa dilakukan setiap akhir pekan.

Optimalisasi rangkaian kereta, lanjutnya, akan terus dilakukan untuk memperlancar mobilitas masyarakat di tengah kondisi bencana letusan Gunung Merapi yang kian meluas.

Selain itu, PT KAI juga menyediakan secara khusus gerbong barang untuk mengangkut bantuan kemanusiaan menuju Yogyakarta.

Sugeng menyebutkan, saat ini sudah ada tiga KA yang menarik gerbong barang khusus tersebut, yakni KA Fajar Utama, KA Senja Utama Yogya dari Stasiun Senen menuju Stasiun Tugu Yogyakarta, dan satu rangkaian KA Senja Solo yang melintasi Yogyakarta. ”Kami menggratiskan tarif pengiriman segala bentuk bantuan kemanusiaan untuk bencana alam di Yogyakarta,” katanya.

Terganggu

Kemarin, akibat hujan abu vulkanik Merapi yang semakin deras mengguyur Yogyakarta dan sekitarnya, perjalanan KA agak terganggu. Menurut Sugeng, jarak pandang masinis berkurang, apalagi jika sudah memasuki daerah Kabupaten Kulon Progo.

Untuk menyiasati hal itu, intensitas komunikasi masinis dengan pusat pengendali perjalanan KA ditingkatkan. ”Ini dilakukan supaya masinis, kendati tidak bisa melihat jalur dalam jarak pandang maksimal, masih bisa mendapat informasi dari pusat pengendali perjalanan tentang kondisi di depannya,” kata Sugeng.

Hujan debu vulkanik tak hanya membuat jarang pandang menjadi pendek, tetapi lintasan rel menuju Yogyakarta—terutama sejak kawasan Kutoarjo (dari arah barat) dan Solo (dari timur)—pun menjadi kotor sehingga harus dibersihkan. Sebab, hal itu juga mengganggu perjalanan, khususnya pemindahan wesel (lintasan).

”Kami juga telah membagikan masker secara gratis kepada penumpang kereta yang akan memasuki Kota Yogyakarta dan Solo,” ujar Sugeng.

Ia mengakui, PT KAI siap menampung pengalihan penumpang dari Yogyakarta jika kondisi penerbangan di sana semakin memburuk sehingga mengharuskan penutupan bandara.

Meningkat

Kepala Humas PT KAI Daerah Operasional (Daop) II Bambang Setyo Prayitno di Bandung, mengatakan, sejak meletusnya Merapi, 26 Oktober lalu, volume penumpang dari Solo dan Yogyakarta menuju Bandung meningkat. Jika pada kondisi biasa tingkat isian sekitar 80 persen, sejak Kamis lalu mencapai 90 persen.

Hal senada dikemukakan Humas PT KA Daop I Mateta di Jakarta. Menurut dia, lonjakan penumpang kereta tujuan Yogyakarta dari Stasiun Gambir, Jakarta, meningkat sekitar 20 persen, kemarin.

”Untuk menampung lonjakan penumpang itu, rangkaian KA Taksaka, KA Bima, KA Gajayana, dan KA Argo Lawu ditambah jadi dua,” ujarnya. (GRE/DOT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau