”Jika diperlukan, kami siap mengalihkan kereta-kereta yang tidak terpakai untuk menambah kapasitas angkut dari dan menuju Yogyakarta (DI Yogyakarta) dan Solo (Jawa Tengah),” kata Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Sugeng Prijono, Jumat (5/11) di Bandung, Jawa Barat.
Sejak ditutupnya Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, dan Adisumarmo, Solo, sebagai dampak dari erupsi Gunung Merapi, PT KAI memaksimalkan daya angkut setiap kereta, dari kondisi biasa hanya 80 persen menjadi 100 persen.
Sugeng mencontohkan, jika pada hari biasa KA dari Yogyakarta hanya menarik 10 rangkaian kereta, kini ditambah menjadi 12 rangkaian kereta. ”Penambahan 50-100 tempat duduk per rangkaian,” ujarnya, seraya menjelaskan, penambahan rangkaian kereta itu biasa dilakukan setiap akhir pekan.
Optimalisasi rangkaian kereta, lanjutnya, akan terus dilakukan untuk memperlancar mobilitas masyarakat di tengah kondisi bencana letusan Gunung Merapi yang kian meluas.
Selain itu, PT KAI juga menyediakan secara khusus gerbong barang untuk mengangkut bantuan kemanusiaan menuju Yogyakarta.
Sugeng menyebutkan, saat ini sudah ada tiga KA yang menarik gerbong barang khusus tersebut, yakni KA Fajar Utama, KA Senja Utama Yogya dari Stasiun Senen menuju Stasiun Tugu Yogyakarta, dan satu rangkaian KA Senja Solo yang melintasi Yogyakarta. ”Kami menggratiskan tarif pengiriman segala bentuk bantuan kemanusiaan untuk bencana alam di Yogyakarta,” katanya.
Kemarin, akibat hujan abu vulkanik Merapi yang semakin deras mengguyur Yogyakarta dan sekitarnya, perjalanan KA agak terganggu. Menurut Sugeng, jarak pandang masinis berkurang, apalagi jika sudah memasuki daerah Kabupaten Kulon Progo.
Untuk menyiasati hal itu, intensitas komunikasi masinis dengan pusat pengendali perjalanan KA ditingkatkan. ”Ini dilakukan supaya masinis, kendati tidak bisa melihat jalur dalam jarak pandang maksimal, masih bisa mendapat informasi dari pusat pengendali perjalanan tentang kondisi di depannya,” kata Sugeng.
Hujan debu vulkanik tak hanya membuat jarang pandang menjadi pendek, tetapi lintasan rel menuju Yogyakarta—terutama sejak kawasan Kutoarjo (dari arah barat) dan Solo (dari timur)—pun menjadi kotor sehingga harus dibersihkan. Sebab, hal itu juga mengganggu perjalanan, khususnya pemindahan wesel (lintasan).
”Kami juga telah membagikan masker secara gratis kepada penumpang kereta yang akan memasuki Kota Yogyakarta dan Solo,” ujar Sugeng.
Ia mengakui, PT KAI siap menampung pengalihan penumpang dari Yogyakarta jika kondisi penerbangan di sana semakin memburuk sehingga mengharuskan penutupan bandara.
Kepala Humas PT KAI Daerah Operasional (Daop) II Bambang Setyo Prayitno di Bandung, mengatakan, sejak meletusnya Merapi, 26 Oktober lalu, volume penumpang dari Solo dan Yogyakarta menuju Bandung meningkat. Jika pada kondisi biasa tingkat isian sekitar 80 persen, sejak Kamis lalu mencapai 90 persen.
Hal senada dikemukakan Humas PT KA Daop I Mateta di Jakarta. Menurut dia, lonjakan penumpang kereta tujuan Yogyakarta dari Stasiun Gambir, Jakarta, meningkat sekitar 20 persen, kemarin.
”Untuk menampung lonjakan penumpang itu, rangkaian KA Taksaka, KA Bima, KA Gajayana, dan KA Argo Lawu ditambah jadi dua,” ujarnya.