WASIOR, KOMPAS
Suryadi (40), warga Jalan Margono, Wasior, Sabtu (6/11), mengaku sudah berulang kali meminta bantuan makanan dari pemerintah. Namun, hingga satu bulan setelah banjir bandang, 4 Oktober lalu, Suryadi bersama dua kerabatnya belum pernah menerima bantuan.
”Bantuan makanan hanya datang sekali. Itu pun dari salah satu partai politik dan sekarang sudah habis,” kata Suryadi.
Bantuan uang yang diperoleh dari kerabatnya di Purwokerto, Jawa Tengah, juga sudah habis. Bantuan uang tidak banyak berarti karena harga bahan makanan di Wasior melonjak pascabanjir. Harga beras yang biasanya Rp 70.000 per sak (seberat 15 kg) naik menjadi Rp 90.000.
Nathaniel Alkatiri (45), tokoh masyarakat Kelurahan Wasior, mengatakan hal senada. ”Kami bisa bertahan hidup karena bantuan dari luar Wasior yang diserahkan langsung,” katanya.
Karena itu, saat bantuan makanan dan pakaian dari Himpunan Mahasiswa Papua di Semarang datang, Sabtu sore, warga langsung keluar dari tenda pengungsian. Mereka bersukacita menyambutnya. Beberapa di antara mereka bahkan terlihat sampai menitikkan air mata.
Muhammad Nur (39), korban banjir di Jalan Margono, mengatakan, selain makanan, bantuan air bersih juga tidak terdistribusi dengan baik. Tandon air bersih yang ditaruh di depan rumahnya kerap terlambat diisi sehingga dia sulit memperoleh air bersih.
Bantuan ini masih sangat diharapkan sedikitnya oleh 2.349 pengungsi lain di Wasior karena tempat mereka bekerja dan usaha yang mereka rintis hancur diterjang banjir.
Direktur Perbaikan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana Untung Sarosa mengatakan, stok bantuan makanan, minuman, dan air bersih sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh korban. Pendistribusiannya sebetulnya sudah diupayakan merata ke seluruh korban berdasarkan laporan dari kepala desa dan camat.
”Jika ada yang belum memperoleh bantuan, seharusnya melapor kepada kepala desa atau camat,” katanya.
Di Pelabuhan Laut Wasior, tercatat sedikitnya 483 warga mendatangi pelayanan kesehatan dari kapal rumah sakit, KRI dr Suharso, sejak Jumat lalu. Pelayanan dilaksanakan hingga hari Minggu ini dan KRI dr Suharso bergeser ke Manokwari untuk mengobati 4.680 korban banjir Wasior yang mengungsi di sana.
Ketua Kelompok Tim Evakuasi Satgas Bencana Wasior Letnan Satu dr Bangun Pramujo mengingatkan pentingnya sanitasi lingkungan, termasuk perlunya membangun tempat mandi, cuci, dan kakus yang sehat.
Berdasarkan data posko bencana banjir bandang Wasior, hingga kemarin tercatat 172 orang meninggal, 118 orang hilang, 41 orang luka berat, dan 3.374 orang luka ringan akibat bencana tersebut.