Banjir wasior

Korban Kesulitan Memperoleh Bantuan

Kompas.com - 07/11/2010, 03:00 WIB

WASIOR, KOMPAS - Korban banjir bandang Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat, kesulitan memperoleh bantuan dari pemerintah. Padahal, mereka sangat bergantung pada bantuan karena umumnya belum bisa bekerja kembali untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Suryadi (40), warga Jalan Margono, Wasior, Sabtu (6/11), mengaku sudah berulang kali meminta bantuan makanan dari pemerintah. Namun, hingga satu bulan setelah banjir bandang, 4 Oktober lalu, Suryadi bersama dua kerabatnya belum pernah menerima bantuan.

”Bantuan makanan hanya datang sekali. Itu pun dari salah satu partai politik dan sekarang sudah habis,” kata Suryadi.

Bantuan uang yang diperoleh dari kerabatnya di Purwokerto, Jawa Tengah, juga sudah habis. Bantuan uang tidak banyak berarti karena harga bahan makanan di Wasior melonjak pascabanjir. Harga beras yang biasanya Rp 70.000 per sak (seberat 15 kg) naik menjadi Rp 90.000.

Nathaniel Alkatiri (45), tokoh masyarakat Kelurahan Wasior, mengatakan hal senada. ”Kami bisa bertahan hidup karena bantuan dari luar Wasior yang diserahkan langsung,” katanya.

Karena itu, saat bantuan makanan dan pakaian dari Himpunan Mahasiswa Papua di Semarang datang, Sabtu sore, warga langsung keluar dari tenda pengungsian. Mereka bersukacita menyambutnya. Beberapa di antara mereka bahkan terlihat sampai menitikkan air mata.

Muhammad Nur (39), korban banjir di Jalan Margono, mengatakan, selain makanan, bantuan air bersih juga tidak terdistribusi dengan baik. Tandon air bersih yang ditaruh di depan rumahnya kerap terlambat diisi sehingga dia sulit memperoleh air bersih.

Bantuan ini masih sangat diharapkan sedikitnya oleh 2.349 pengungsi lain di Wasior karena tempat mereka bekerja dan usaha yang mereka rintis hancur diterjang banjir.

Direktur Perbaikan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana Untung Sarosa mengatakan, stok bantuan makanan, minuman, dan air bersih sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh korban. Pendistribusiannya sebetulnya sudah diupayakan merata ke seluruh korban berdasarkan laporan dari kepala desa dan camat.

”Jika ada yang belum memperoleh bantuan, seharusnya melapor kepada kepala desa atau camat,” katanya.

Layanan kesehatan

Di Pelabuhan Laut Wasior, tercatat sedikitnya 483 warga mendatangi pelayanan kesehatan dari kapal rumah sakit, KRI dr Suharso, sejak Jumat lalu. Pelayanan dilaksanakan hingga hari Minggu ini dan KRI dr Suharso bergeser ke Manokwari untuk mengobati 4.680 korban banjir Wasior yang mengungsi di sana.

Ketua Kelompok Tim Evakuasi Satgas Bencana Wasior Letnan Satu dr Bangun Pramujo mengingatkan pentingnya sanitasi lingkungan, termasuk perlunya membangun tempat mandi, cuci, dan kakus yang sehat.

Berdasarkan data posko bencana banjir bandang Wasior, hingga kemarin tercatat 172 orang meninggal, 118 orang hilang, 41 orang luka berat, dan 3.374 orang luka ringan akibat bencana tersebut. (APA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau