Green festival 2010

Hidup Sejahtera bersama Sampah

Kompas.com - 07/11/2010, 07:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -  Jangan dikira, setiap sampah adalah limbah yang tidak berguna. Pak Slamet Riyadhi telah membuktikan sampah-sampah industri rumah tangga menjadi kreasi anyaman yang layak untuk dilirik dan dimiliki. Pada tahun 1998 krisis moneter membuatnya di-PHK. Sejak itu, ia mencari peluang melatih ibu-ibu lansia di Kampung Sudimara, Pinang, Tangerang, Banten,  membuat anyaman.  

"Usaha ini dinamakan Lumintu yang berarti filosofi masyarakat Jawa, yaitu menurunkan ke anak cucu, sedangkan untuk masyarakat Sunda yang berarti lumayan. Jika diperpanjang menjadi lumayan itung-itung menunggu tutup usia," ucap Slamet Riyadhi, saat menjadi partisipan di acara Green Festival, Sabtu ( 6/11/2010) di Jakarta.  

Slamet mengatakan, Pondok Kreasi Daur Ulang Lumintu yang terletak di Jalan K.H Hasyim Ashari, Gang Kewuning, Sudimara, Pinang Ciledug, Tangerang, sudah dirintis sejak tahun 1998, bermula dari ide mengumpulkan sampah plastik yang berlapis aluminium foil, seperti bungkus makanan ringan dan dibuat dekorasi untuk anak-anak sekolah.

"Itu ide awalnya, tetapi setelah tahun 2000 banyak peminatnya, akhirnya kami buat inovasi baru dengan membuat produk dari pasta gigi. Dalam usaha ini, kami dibantu 6 orang lansia, pemulung, dan 64 karyawan yang terdiri dari ibu-ibu, anak remaja, dan lansia," ucap Slamet.  

Kemudian tahun 2002, Lumintu melirik dunia fashion, akhirnya melakukan inovasi tiada henti dengan membuat tas dari anyaman dari bekas kemasan, seperti detergen. Kata Slamet, barang-barang hasil kerajinan anyaman dari tikar sudah sampai ke 11 negara, di antarnya Brunei, Singapura, Mesir, Nigeria, Belanda, Italia, Vatikam, Kanada, Hawai, dan Australia.  

Lumintu didirikan Slamet benar-benar dari nol, dan hingga besar sekarang ini tujuannya adalah mendirikan usaha lantaran ingin memanfaatkan sampah. Slamet sudah sering menjadi pembicara di sekolah-sekolah, serta berkeinginan melakukan sosialisasi mengenai usahanya lewat sosialiasi kepada guru dan melakukan ekskul daur ulang.  

"Dari sampah yang ada di sekeliling kita, kita bisa menghasilkan dan mendidik kreativitas anak, dengan sampah sebagai medianya. Saya sudah ke 138 sekolah di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi, dan dari 138 sekolah hanya ada 7 sekolah yang gurunya memiliki kemampuan untuk membuat kreasi daur ulang," tandas Slamet.  

Selain itu, Lumintu juga mengumpulkan barang rongsokan dan dijadikan apa pun bisa. "Dari barang rongsokan bisa dikreasikan apa saja, itu tergantung kreativitas anak, dan bisa dijual dari Rp 50.000-Rp 300.000, tergantung ciptaan kreasinya," imbuh Slamet.  

Lumintu menawarkan dua paket, yaitu hasil produk kreasi dan produk jasa pelatihan ke sekolah. "

Sekarang harapan saya adalah mudah-mudahan ada dermawan yang peduli terhadap pengusaha sosial, dan bagi kami diberi kemudahan karena sekarang limbah sudah dikuasai oleh mafia-mafia limbah. Serta kegiatan ini saya rasa penting jika bisa dijadikan ekskul di Sekolah dan melakukan inovasi tiada henti," ucap pria kelahiran Cirebon, 21 September 1951 ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau