YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah korban tewas akibat letusan Gunung Merapi yang terjadi pada Kamis (4/11) hingga Jumat (5/11) terus meningkat. Pada Minggu (7/11), jumlah korban tewas menjadi 88 orang dari sebelumnya 81 orang. Pelaporan jumlah orang hilang di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta mencapai 213 orang.
Menurut Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Trisno Heru Nugroho, sebanyak 43 jenazah sudah teridentifikasi dan telah dimakamkan. Hingga kini, sebanyak 10 dokter ahli forensi k di RSUP Dr Sardjito terus melakukan identifikasi jenazah dengan dibantu tim dari Disaster Victims Identification.
Sebagian keluarga korban tewas cenderung menyalahkan kehadiran bendungan dam sabo di aliran sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Dam sabo yang berfungsi menghambat laju aliran material lahar dingin ini justru tidak mampu menampung material vulkanik sehingga meluber ke pemukiman warga.
Warga Dusun Jetis, Argomulyo, Cangkringan Sleman, Supri, berharap pemerintah mempertimbangkan kembali kehadiran proyek dam sabo di Lereng Merapi. "Korban tewas banyak ditemui di dusun yang dekat dengan bendungan dam sabo," kata Supri yang 12 anggota keluarganya tewas akibat letusan Merapi.
Meskipun masih banyak jenazah yang belum teridentifikasi, warga mengaku rela jika korban tewas segera dimakamkan secara massal. Warga Dusun Ngancar, Glagaharjo, Sleman Suranto hanya bisa mengidentifikasi tiga dari enam saudaranya yang tewas. "Saya turut mengevakuasi korban begitu tahu banyak yang tewas," tambah Suranto.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang