Obama Desak India

Kompas.com - 08/11/2010, 04:03 WIB

New Delhi, Minggu - Presiden Amerika Serikat Barack Obama mendesak India memulai lagi perundingan damai dengan Pakistan demi kepentingan India sendiri dan keamanan kawasan. Perdamaian India-Pakistan akan sangat membantu usaha AS menuntaskan perang di Afganistan.

Obama mengatakan itu di hadapan para mahasiswa St Xavier College, Mumbai, India, Minggu (7/11). Obama mengaku, AS tidak bisa memaksakan perdamaian antara India dan Pakistan.

Akan tetapi, Obama menegaskan, India adalah negara yang paling diuntungkan jika kondisi di Pakistan stabil dan sejahtera. ”Jadi, harapan saya, seiring dengan berjalannya waktu, kepercayaan terbangun di antara dua negara dan dialog bisa dimulai lagi. Mulai dari isu-isu yang tak terlalu kontroversial kemudian dikembangkan sampai ke isu-isu besar,” tutur Obama.

AS memang menghadapi situasi rumit dalam menangani berbagai masalah terkait India dan Pakistan, dua musuh bebuyutan yang sudah berperang tiga kali sejak mereka lepas dari penjajahan Inggris, 1947.

Pakistan menjadi salah satu sekutu utama AS dalam perang di Afganistan. Sementara India adalah salah satu kekuatan ekonomi utama di Asia yang penting bagi AS untuk menghadapi China.

Sehari sebelumnya, Obama sempat memancing kemarahan sebagian orang India karena tak menyebut-nyebut Pakistan saat menyatakan solidaritas AS kepada para korban serangan teror Mumbai, November 2008. Sebanyak 166 orang tewas dalam serangan oleh kelompok ekstremis Lashkar-e-Taiba, yang berbasis di Pakistan, itu.

Serangan itu membuat India memutus seluruh proses perundingan damai dengan Pakistan.

India kemudian memberikan bantuan sebesar 1,3 miliar dollar AS (Rp 11,5 triliun) kepada Pemerintah Afganistan agar negara itu stabil dan tidak menjadi sarang militan anti-India. Pakistan curiga langkah India membantu Afganistan itu untuk mengepung Pakistan dari segala arah.

”Investasi India di Afganistan sangat kami hargai. Pakistan harus menjadi mitra dalam proses (perang terhadap terorisme) ini. Bahkan, semua negara di kawasan ini harus saling bermitra dalam proses ini. AS menyambut baik semua itu, (karena) kami tidak bisa melakukannya sendiri,” ungkap Obama.

Obama juga menyinggung Pakistan yang dianggapnya kurang sigap memberantas militan, yang berpotensi menjadi teroris, di wilayahnya. Menurut Obama, memang ada kemajuan usaha penumpasan militan ini, tetapi progresnya tidak secepat yang diharapkan.

Lebih terbuka

Sehari sebelumnya, di Mumbai, Obama mengumumkan kesepakatan bisnis senilai 10 miliar dollar AS (Rp 89 triliun) antara AS dan India, yang akan membuka lapangan kerja bagi 54.000 warga AS. Salah satu kesepakatan bisnis itu adalah penjualan 30 pesawat Boeing 737 senilai 7,7 miliar dollar AS (Rp 68,5 triliun) kepada maskapai SpiceJet dari India.

Minggu siang, Obama dan Ibu Negara Michelle Obama tiba di ibu kota India, New Delhi. Obama dijadwalkan menggelar pertemuan tertutup dengan PM India Manmohan Singh, Presiden India Pratibha Patil, dan Ketua Partai Kongres yang berkuasa Sonia Gandhi.

Obama mengunjungi India dalam rangkaian kunjungan 10 hari ke beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, Korea Selatan, dan Jepang. Salah satu agenda Obama adalah untuk membujuk negara-negara tersebut tidak menurunkan nilai mata uang mereka.

Dia juga mendesak India untuk lebih membuka diri bagi investasi dari AS. India melarang investasi asing di sektor-sektor penting, seperti sektor retail dan layanan finansial.

(AP/AFP/Reuters/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau