KOMPAS.com — Tak banyak yang dapat dilakukan warga sepanjang bantaran Kali Code untuk menghalau gelontoran banjir lahar dingin muntahan letusan Gunung Merapi. Mereka hanya dapat berjaga di sepanjang talud sungai, memastikan gelontoran banjir lahar dingin itu tak akan menghantam permukiman.
"Kami seperti menghadapi bom waktu. Tak ada yang bisa kami perbuat karena tak mampu menghalaunya. Dan, kami pun menyadari akibatnya,” tutur Yugastowo, seorang penggerak pemuda di permukiman bantaran Kali Code, Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Minggu (7/11/2010).
Di antara kekhawatiran warga, anak-anak bantaran Kali Code masih menemukan kesenangan dari dampak banjir lahar dingin itu. Kedalaman Kali Code yang kian dangkal karena endapan material pasir dari banjir lahar dingin yang tebal justru dimanfaatkan anak-anak untuk lomba lari di atas badan Kali Code.
Sejak Gunung Merapi meletus eksplosif Jumat lalu, hampir setiap hari Kali Code yang hulunya di Sungai Boyong itu memperoleh limpahan banjir lahar dingin. Material pasir yang dibawa banjir lahar memenuhi hampir seluruh badan sungai.
Pendangkalan Kali Code di bawah Jembatan Gondolayu menyisakan kedalaman sungai hanya sejengkal dari talud, sedangkan pendangkalan di bawah Jembatan Kewek menyisakan kedalaman sungai 1 meter. Padahal, sungai itu memiliki kedalaman hingga 3 meter.
”Saya baru sekali ini mengalami Kali Code begitu dangkal. Makanya, kapan lagi kalau bukan sekarang untuk bermain di atas sungai ini. Kalau biasanya, kan cukup tinggi dari talud ke permukaan sungai, dan itu bahaya,” ujar Diki Setiawan (13).
Apabila anak-anak jelang dewasa bebas bermain, anak-anak di bawah 10 tahun dilarang orangtuanya bermain di tengah Kali Code. Seperti Marhen (7), ia hanya duduk di pinggir talud, menyaksikan teman-temannya balap lari melawan arus sungai. ”Enggak boleh sama ibu. Kalau boleh, mau ikutan,” katanya.
Orangtua di bantaran sungai itu membiarkan anak-anaknya bermain di tengah Kali Code karena mereka sibuk meninggikan talud dengan kantong-kantong pasir untuk membendung limpasan banjir yang berarus deras. Ada juga yang sibuk membuat talud melindungi saluran pembuangan dari endapan pasir.
”Jika nanti datang gelontoran banjir lahar lagi, pasti ketahuan. Biasanya gelontoran banjir itu didahului sampah potongan-potongan kayu banyak,” kata Sugiartini (51), warga RT 06 RW02 Kelurahan Suryatmajan.
Kumpulan sampah yang datang biasanya diikuti arus deras dan air bergulung-gulung. Warna air tak lagi coklat, tetapi kehitaman karena membawa pasir. Jika sudah begitu, ibu-ibu dan anak-anak akan mengungsi ke tempat yang aman.
Selama mengungsi, hampir seluruh warga di pinggir talud sungai telah mengungsikan barang-barang elektronik ataupun barang berharga lain ke rumah kerabat atau tetangga terdekat. Mereka juga telah mengemas pakaian di tempat-tempat pengungsian.
Menurut Sugiartini, hanya kaum ibu dan anak-anak yang mengungsi pada malam hari. Keesokan paginya, mereka kembali ke rumah masing-masing, sedangkan kaum bapak dan remaja berjaga di sepanjang talud, mengawasi gelontoran banjir lahar.
Jayadi, Ketua RT 10 RW 04 di bantaran Kali Code, mengatakan, tak banyak yang dapat dilakukan warga selain menunggu. Warga hanya mengeruk endapan pasir yang menyumbat saluran. ”Setidaknya saluran pembuangan itu bisa lancar, tetapi kami tetap tak bisa menghalau banjir lahar dingin. Banjir itu ancaman besar kami,” ujarnya.
Kali Code melintasi 14 kelurahan di delapan kecamatan. Ada 13.000 jiwa yang tinggal di kanan-kiri Kali Code. Di tengah ancaman letusan Merapi, warga di kanan-kiri Kali Code bersiap menghadapi bom waktu. Mudah-mudahan semua teratasi tanpa ada korban jiwa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang