Candil Pantang Coba Wig di Toko

Kompas.com - 08/11/2010, 12:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -- Dikenal berambut keriting, vokalis rock Candil merasa diuntungkan. Ia merasa nyaman tanpa ada seorangpun yang mengenalinya ketika tak mengenakan wig atau rambut palsu keritingnya itu.

Demi tak ketahuan bahwa ia sebetulnya mengenakan wig, ketika ia hendak membeli rambut palsu keriting dalam keadaan sedang tidak mengenakan wig, Candil pantang mencobanya di toko bersangkutan. "Kalau belanja wig, gue asal beli aja. Gue enggak mau mencoba di toko, karena nanti takut ketahuan (bahwa ia Candil)," cerita pembawa lagu "Rocker Juga Manusia" ini.

Candil mengaku tak peduli merek ketika memilih wig. "Enggak perlu bermerek, yang penting asal keriting aja," ujarnya.

Penyanyi yang tengah menyiapkan album solo perdananya ini hingga kini memiliki lima rambut palsu keriting. "Ada lima, modelnya sama semua. Warnanya hitam atau yang beda paling burgundy, dan gue enggak akan coba yang warna lain kayak blondie," jelasnya dengan tawa.

Agar koleksi wig-nya awet, Candil selalu merawatnya sendiri. "Paling dicuci biasa aja. Kalau ada waktu, tinggal direndam di pelembut pakaian," terangnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau