Melihat Kabah di Museum

Kompas.com - 09/11/2010, 05:34 WIB

Oleh Rajab Ritonga

Pada musim haji 1431 Hijriyah yang saat ini sedang berlangsung, sekitar dua juta umat Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di kota suci Mekkah guna memenuhi panggilan Allah, Wukuf di Padang Arafah pada 9 Zulhijah.

Sambil menunggu masa itu tiba mereka beribadah di Masjidil Haram Mekkah ataupun di Masjid Nabawi Madinah.

Di Masjidil Haram, saat melakukan tawaf, jamaah calon haji selalu berupaya untuk bisa menyentuh dan mencium Hajar Aswad, memegang pintu Kakbah, shalat di Hijir Ismail, ataupun menyentuh "maqam" Ibrahim (tempat tanda telapak kaki Nabi Ibrahim AS).

Adakalanya jamaah berdoa sambil menangis tersedu, bahkan histeris, membuat askar yang bertugas menghalau mereka sambil berujar: "haram, haram" karena menyangka jamaah menyembah benda-benda tersebut.

Begitu juga di dalam Masjid Nabawi Madinah, jamaah berebutan untuk melaksanakan shalat sunnah di Raudah (Taman Surga) yang berada di sebelah kiri makam Nabi Muhammad SAW. Ada yang menangis meraung-raung berlama-lama saat memegang pintu makam Nabi, sampai dihalau askar berseragam loreng yang menjaga makam itu.

Kecuali Hajar Aswad, batu hitam yang diturunkan Allah dari surga melalui malaikat Jibril, dan Hijir Ismail, maka benda-benda lainnya yang ada di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi adalah buatan manusia. Bahkan beberapa dari benda-benda itu telah diganti karena sudah usang dimakan usia. Benda-benda yang sudah "afkir" tersebut kini disimpan di Museum Kakbah di Ummul Joud, pinggiran kota Mekkah.

Di Museum itu, pengunjung bisa menyaksikan, menyentuh, dan mencium (kalau mau) benda-benda tersebut sepuasnya.

Bedanya, di museum itu tidak ada jutaan umat yang menangis tersedu-sedu, atau histeris saat memegang pintu bekas Kakbah, pintu bekas makam Nabi Muhammad SAW, maqam (tempat berpijak atau telapak kaki) Nabi Ibrahim AS yang bentuknya seperti "sangkar burung" itu ataupun memegang Kiswah (kelambu hitam) bekas penutup bangunan Kakbah.

Juga tidak ketinggalan di sana ada pintu bekas Masjidil Haram, maupun pintu eks Masjid Nabawi.

Bukan hanya itu saja. Di sana juga tersimpan satu dari tiga bekas tiang penyangga di dalam Kakbah yang tingginya sekitar 14 meter. Juga ada tangga Kakbah dari kayu yang usianya lebih dari 400 tahun.

Dulu rupanya Kakbah menggunakan tangga bila mau masuk ke dalamnya. Begitu juga pancuran air dari emas Kakbah (Mizab Rahman) juga dapat disaksikan di museum.

Suasana di dalam Kakbah juga bisa diperoleh dengan mengunjungi museum. Di sana tersimpan kain pelapis dinding Kakbah yang pernah digunakan, baik saat berwarna merah maupun hijau yang saat ini digunakan. Pelindung Hajar Aswad, berupa lempengan perak berbentuk oval, dan pelindung cetakan kaki Nabi Ibrahim yang ada di Maqam Ibrahim juga bisa disaksikan di museum.

Membuat Kiswah Di sebelah kanan museum ada pabrik tekstil milik kerajaan Arab Saudi, tempat kiswah, atau kelambu warna hitam yang menutupi Kakbah diproduksi.

Pabrik itu membuat kiswah sejak berbentuk benang sutera, ditenun jadi kain sutera, diproses hingga menjadi kain berwarna hitam, dan setelah itu disulam berhiaskan kaligrafi indah ayat-ayat kitab suci Al Quran.

Pekerjaannya dilakukan dengan kombinasi mesin modern dan tradisional. Alat tradisional digunakan untuk memintal benang sutra menjadi kain.

Begitu juga Kaligrafi dibuat melalui tangan-tangan terampil yang menyulam satu demi satu ayat-ayat kitab suci Al Quran secara manual menggunakan jarum tangan. Mesin modern baru bekerja ketika menyatukan bagian demi bagian yang dihasilkan para penyulam.

Setiap tanggal 9 Zulhijah, saat Kakbah sepi karena semua umat berada di padang Arafah, sebuah kiswah yang baru dipasang menggantikan kiswah tahun sebelummya.

Bicara soal kiswah yang menjadi "baju" Kakbah tentu sangat menarik. Kiswah pertama di zaman jahiliah dibuat oleh Raja Abu Karab Asaad Al Hamiri, sampai kemudian datangnya Islam, dan Nabi Muhammad SAW mengambil alih pembuatan kiswah. Selanjutnya diteruskan Khafilah Al Rashidin, dan penggantinya sampai ke sekarang.

Waktu Raja Al Malik Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud berkuasa, ia membangun pabrik kiswah tahun 1346 Hijriyah, dan kembali membuat pabrik modern di Ummul Joud pada 7 Rabiul Akhir 1397 Hijriyah.

Sebuah kiswah menghabiskan biaya sampai Rp42 miliar, dengan sutra yang diperlukan 670 kilogram. Tinggi kiswah mencapai sekitar 14 meter, dengan lebar antara dua rukun 10,18 meter, di sisi Multazam selebar 12,50 meter, sisi Hajar Aswad 10,50 meter.

Beberapa keterangan tentang Kiswah:

Tinggi Kiswah 14 meter Berat sutera yang digunakan 670 kg Lebar kiswah dari pintu 11,67 m Antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani 10,18 m Hijir Ismail 9,90 m Antara Rukun Yamani dan Rukun Syami 12,04 m Luas atap Kiswah 658 meter persegi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau