KLATEN, KOMPAS.com — Tidak kurang dari 650 warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, hingga Sabtu (6/11/2010), memilih bertahan di pos pengungsian di Keputran, Kecamatan Kemalang, Klaten. Padahal, pos pengungsian Keputran yang berisi lebih dari 20.000 orang sejak Rabu (3/11/2010) malam sudah dikosongkan dan dinyatakan sebagai daerah bahaya karena masih dalam radius 15-19 kilometer dari Gunung Merapi.
Menurut instruksi yang dikeluarkan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta, lokasi pengungsian yang aman ada pada radius minimal 20 kilometer.
Alasan warga tetap bertahan di gedung SD Keputran II, Kemalang, itu antara lain karena mereka percaya pada Sukiman, tokoh desa yang juga relawan dalam jejaring Jalin Merapi. Sukiman yang dibantu lebih dari delapan relawan penduduk asli Desa Sidorejo itu menjadi tulang punggung bagi warga. Mereka dipercaya warga, bukan saja sebagai panutan arah ke mana mereka harus mengungsi, melainkan juga dalam mengelola dan mencari bantuan.
”Sejak pos Keputran dikosongkan, warga kami memilih bertahan. Karena bertahan di lokasi rawan, kami adalah pengungsi tidak resmi alias lokasi ini bukan termasuk lokasi pengungsian resmi yang layak memperoleh bantuan dari Satlak PB Kabupaten Klaten,” ujar Sukiman.
Karena bukan pengungsi resmi yang selalu mendapat pasokan logistik dari Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Klaten, tentu saja warga di bawah Sukiman itu mesti mandiri dalam mengelola dan memperoleh bantuan pangan. Sukiman dan rekan-rekannya pun tidak kalah akal. Anak-anak muda ini memanfaatkan internet guna mengetuk hati kaum dermawan dan sukarelawan dari luar Klaten.
Menurut rekan Sukiman, Kopral, selama ini kebutuhan makanan, keperluan alat mandi, dan sarana lain di pengungsian sangat tercukupi. Hal itu terpenuhi berkat komunikasi di jejaring http://merapi.combine.or.id. Relawan Jalin Merapi yang membuka jejaring internet itu akan mendapatkan hal pokok dan penting untuk keperluan pengungsi.
Warga bisa memperoleh informasi terkini mengenai perkembangan Gunung Merapi dari saluran radio komunikasi yang dapat didengar langsung dari komputer. Kemudian, situs itu juga menyediakan segala informasi untuk mencukupi kebutuhan pengungsi, seperti bantuan air mineral dan tawaran dari dermawan di luar Klaten.
Pengungsi juga bisa menyampaikan apa saja yang mereka butuhkan untuk keperluan di pengungsian.
”Pagi ini kami dapat kiriman nasi bungkus dari Yogyakarta. Itu juga hasil komunikasi lewat jejaring Jalin Merapi. Hebatnya, monitoring perkembangan Gunung Merapi bisa diikuti selama 24 jam dari situs ini,” ujar Sumanto, warga Sidorejo.
Di ruang yang menjadi posko tim Sukiman ini tersedia satu laptop yang dalam kondisi menyala 24 jam dan tersambung dengan saluran internet. Sekurangnya ada enam telepon seluler yang juga aktif dengan masing-masing telepon tersambung ke sumber listrik.
Pada Senin (8/11/2010) sekitar pukul 18.00, dari jejaring Jalin Merapi itu terdengar informasi mengenai perkembangan pos Balerante yang mengabarkan situasi masih aman. Sempat pula terdengar imbauan agar semua pengungsi atau warga Balerante selalu mendengar info terkini dari radio yang siarannya dari, untuk, dan oleh warga Merapi.
Sekretaris Wilayah Kecamatan Kemalang, Bambang Haryoko, mengakui, apa yang dikerjakan Sukiman dan teman-temannya dengan diikuti ratusan warga itu tergolong luar biasa dalam menangani dan mengelola warga di pengungsian.
Perkembangan Merapi yang makin tidak bersahabat menyebabkan tim Sukiman akhirnya memindahkan pos pengungsian ke Balai Manjung di Ngawen, sekitar enam kilometer dari Kemalang. Mereka meneruskan cara mengelola pengungsian berjaring internet bersama ratusan warga Desa Sidorejo.