YOGYAKARTA, KOMPAS -
Ketua Asosiasi Petani Salak Pondoh Sleman Iskandar menuturkan, hampir semua tanaman salak di wilayah Sleman tertimbun abu dan pasir. ”Jumlah tanaman yang rusak berapa kami belum menghitung. Saat ini, petani juga masih tersebar di barak-barak pengungsian,” ujarnya, Selasa (9/11).
Saat ini, banyak tanaman salak rusak parah sehingga harus diganti. Tanaman yang masih bisa pulih harus menunggu minimal 1,5 tahun. Selama itu, para petani praktis tak bisa panen. ”Kami belum bisa menghitung berapa tanaman salak yang rusak. Soalnya petani mengungsi ke banyak tempat,” tuturnya.
Menurut Iskandar, kerugian petani akibat letusan bisa sangat besar. Mereka rugi karena kehilangan tanaman maupun tidak bisa memanen salak.
Dari sisi tanaman, misalnya, petani kehilangan modal membeli bibit dan biaya perawatan. Dengan harga bibit salak Rp 5.000 per batang, di lahan 1.000 meter persegi, petani kehilangan modal Rp 1,25 juta.
Dari sisi buah, kerugian petani lebih besar lagi. Untuk setiap batang tanaman salak, dalam sekali masa panen, petani setidaknya mendapat 10 kilogram salak.
Dengan harga salak Rp 4.000 per kg, petani kehilangan Rp 40.000 dari setiap tanaman salak. Jika ia memiliki 250 batang tanaman salak, kerugian mencapai Rp 10 juta. ”Padahal, saat ini banyak tanaman salak yang siap panen raya,” katanya.
Secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Sle-
Ia mengakui, sebagian tanaman salak memang rusak akibat terkena hujan abu dan pasir. Namun, pihaknya belum mendata jumlah tanaman rusak. ”Kami belum berani ke atas karena status Merapi masih Awas. Akan tetapi, tidak semua tanaman salak rusak; ada yang masih bisa diselamatkan,” tuturnya.
Nuryadi dari kelompok petani salak Duri Kencana Sleman mengatakan, letusan Gunung Merapi membuat 43 hektar lahan salak milik anggota rusak total. ”Tidak ada yang selamat. Semua roboh kena abu sama pasir,” ujarnya.