Epidemi Obesitas Tiba di Negara Berkembang

Kompas.com - 11/11/2010, 10:07 WIB

Kompas.com - Negara-negara berkembang diingatkan untuk mulai mengambil tindakan serius untuk mencegah peningkatan kasus epidemi obesitas atau kegemukan. Saat ini peningkatan wabah obesitas justru lebih cepat terjadi di negara berkembang dibanding negara-negara maju.

Dalam laporan yang dimuat dalam jurnal medis The Lancet, disebutkan negara miskin kemungkinan tidak bisa menangani dampak kesehatan dari penyakit obesitas ini. Menurut data Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), Brasil dan Afrika Selatan  adalah negara yang tingkat obesitasnya di atas rata-rata.

Peningkatan kasus obesitas di negara industrial, seperti Inggris dan Amerika Serikat telah membawa konsekuensi peningkatan kasus penyakit jantung, kanker, dan diabetes.

OECD juga menemukan, 50 persen orang dewasa di negara yang disurvei mengalami kegemukan dan obesitas. Meksiko merupakan negara yang 70 persen orang dewasanya kegemukan, disusul dengan Afrika Selatan yang persentasenya lebih dari 50 persen. Beberapa negara seperti Brasil dan Rusia persentasenya hampir 50 persen.

Sementara itu di Cina, angka obesitasnya kurang dari 30 persen, diikuti dengan India yang angkanya kurang dari 20 persen.

Bagaimana dengan Indonesia? Jika melihat data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, di Indonesia terdapat 19,1 persen kasus obesitas pada penduduk berusia di atas 15 tahun. Angka tersebut melebihi besaran angka kekurangan gizi dan gizi buruk pada anak-anak usia di bawah lima tahun  sebesar 18,4 persen.

OECD juga merekomendasikan agar tiap negara mulai bertindak untuk menahan laju peningkatan wabah obesitas melalui regulasi dan kampanye hidup sehat di media, pajak serta subsidi untuk mendukung pola makan yang sehat lewat pembatasan iklan mengenai makanan. Selain orang dewasa, anak-anak juga harus menjadi target utama strategi tersebut karena ancaman obesitas juga telah melanda anak-anak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau