Wisata budaya

Kenali Aneka Musik Tradisional Nusantara

Kompas.com - 11/11/2010, 16:03 WIB

KOMPAS.com - Benda bulat nan besar yang dipamerkan di Museum Nasional itu bernama Nekara. Nekara terdiri dari 3 bagian yaitu timpaniun (bidang pukul), bahu, dan badan. Uniknya, Nekara ini berfungsi sebagai alat upacara memanggil hujan.

Nekara dari masa paleometalik (zaman logam) ini merupakan alat musik tradisional tertua yang dipamerkan dalam Pameran Keragaman Alat Musik Tradisional Nusantara "Harmoni Nusantara" di Museum Nasional, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Anda juga bisa melihat bermacam-macam alat musik tradisional dari berbagai daerah di Indonesia lainnya.

Ada sekitar 160 buah koleksi alat musik yang ditampilkan di pameran ini. Mulai dari alat musik Canang Situ dari Aceh sampai Jukulele dari Maluku. Indonesia memang memiliki beragam musik tradisional. Tradisi musik rakyat sendiri sudah ada sejak dulu dan dikembangkan di dalam istana seperti di Jawa, Bali, Banjar, dan Kalimantan Selatan.

Dalam pameran ini, tidak hanya alat musik, tapi beberapa alat yang mengeluarkan bunyi-bunyi harmonis pun ditampilkan. Misalnya Kothekan Lesung dari Jawa Tengah yang terbuat dari kayu besar yang berfungsi sebagai wadah gabah saat ditumbuk menggunakan alu untuk menghasilkan beras tanpa gabah. Kegiatan menumbuk padi yang dilakukan beramai-ramai ini menghasilkan irama suara yang enak didengar.

Anda juga dapat melihat berbagai alat musik dari zaman logam, pengaruh Hindu Buddha (masa klasik) pada alat musik seperti Genta Pendeta dari Jawa Barat dan Suling Gambuh dari Bali, dan alat musik dari masa kerajaan Islam seperti rebab dan rebana. Berlanjut ke masa kolonial, alat musik pun mendapat pengaruh dari Eropa, seperti tampak pada alat musik Harmonium yang berbentuk orgel kecil dari Lampung yang dipakai untuk mengiringi gambus. Ada pula alat musik yang mendapat pengaruh dari Jepang seperti Kecapi Jepang dari Sumatera Barat.

Selain Museum Nasional, museum yang menyumbangkan koleksinya untuk pameran ini ada 24 museum dari berbagai provinsi seperti Sumatera Utara, Jambi, Jawa Tengah, NTB, Bali, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Maluku, dan lain-lain.

Selain pameran alat musik tradisional, ada pula pentas seni yang diisi oleh sanggar seni dan sekolah-sekolah. Ada pula pameran angklung dari Saung Udjo dan demo pembuatan angklung. Anda juga bisa memainkan sendiri beberapa peralatan musik seperti gamelan.

Sebagian besar pengunjung merupakan anak-anak sekolah. Tapi tampak pula wisatawan asing asyik melihat-lihat pameran tersebut.

"Wisatawan asing sebenarnya tidak terlalu berpengaruh dengan pameran, mereka memang ada agenda untuk datang ke museum. Tapi saat mereka melihat pameran, mereka jadi antusias. Bahkan saat ada pertunjukan wayang, mereka mau menunggu berjam-jam untuk menonton wayang," tutur Oting Rudy Hidayat dari Museum Nasional. Pameran berlangsung dari 12 Oktober 2010 sampai 12 November 2010.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau