YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Sriyani mengaku bersyukur karena keluarga intinya selamat dari letusan Merapi, Jumat lalu. Namun, ia juga mengaku tak bisa berbahagia karena derita kakaknya.
Sriyani adalah warga Gadingan, Cangkringan, Yogyakarta. Ia memiliki satu suami dan tiga putra. Mereka mengungsi di Berbah, Bantul. Ketika bencana terjadi, ia dan keluarga sedang tidur. Ia mengaku terbangun dengan keadaan panik karena teriakan-teriakan warga lain, menyusul letusan yang terjadi dini hari itu.
"Saya dan keluarga panik. Kami berlima naik motor. Motor saya itu sudah tua, tapi tumben waktu itu diselah sekali langsung nyala. Semua naik motor itu. Saya memegangi senter karena lampu motor mati," tutur Sriyani.
"Namanya panik, orang-orang itu pergi ke arah macam-macam. Kami sendiri menuju Prambanan," katanya.
Sri kemudian bercerita tentang keluarga kakaknya yang tinggal di Bronggang. Menurut tetangga, kakaknya mereka juga sempat lari, tetapi tak terhindar dari awan panas.
"Mereka ditemukan hidup, tapi mengalami luka bakar dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Sarjito. Suami dan anak kakak saya meninggal di sini. Anaknya yang masih dalam kandungan meninggal dan dikeluarkan hari Rabu. Kata dokter, kemungkinan hidup kakak saya kecil," katanya.
Ditanya tentang perasaannya saat ini, ia mengaku bersyukur karena dia dan keluarga intinya selamat dari bencana Merapi. Akan tetapi, dia juga sedih karena nasib kakaknya belum menentu. Selain itu, kakaknya itu sudah kehilangan suami dan anak-anaknya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang